Orangtua dan Guru Berperan Bentuk Karakter Anak

Karakter Anak

KUALA KURUN, kalteng.co-Kejaksaan Negeri (Kejari) Gunung Mas (Gumas) beberapa kali menangani perkara tindak pidana yang dilakukan oleh anak di bawah umur, maupun anak yang menjadi korban seperti kasus pencabulan atau persetubuhan dalam perkara perlindungan anak selama tahun 2020. Hal itu disampaikan Kajari Gumas Anthony melalui Kasiintel Kejari Gumas, Firman Hadi.

Terakhir, kata Firman, Kejari juga sedang menangani perkara pencurian dengan pemberatan yang dilakukan oleh anak dibawah umur yang ditangani dari Polres Gunung Mas.Kejadian ini menjadi perhatian kejaksaan. Kasus ini sejatinya menjadi pembelajaran semua orangtua di mana pun berada, agar selalu melakukan pengawasan dalam pergaulan anaknya.

“Faktor orangtua yang selalu sibuk bekerja sampai lalai untuk mengawasi anaknya. Peran Orang tua itu sangat penting untuk dalam pembentukan sikap dan kepribadian seorang anak,”ungkap Firman Minggu (3/1).

Baca Juga:  Disdagperin Akan Jaga Kestabilan Harga dan Stok Bahan Pokok

Kemudian, tambah firman , faktor semakin berkembangnya teknologi juga membuat para Orangtua harus lebih mengawasi anak-anaknya dalam pergaulan.

“Peran orangtua, sebagai pembentuk karakter dan pola pikir dan kepribadian anak. Oleh karena itu, keluarga merupakan tempat dimana anak-anaknya pertama kali berkenalan dengan nilai dan norma,”tambah Firman.

Selain itu, bimbingan dan perhatian dari orang tua sangat diperlukan oleh anaknya dalam proses pencapaian prestasi belajarnya, jadi dengan kata lain, perhatian orangtua merupakan faktor utama dalam membimbing, mengarahkan dan mendidik anaknya di kalangan keluarga sehingga anaknya menjadi generasi penerus yang lebih baik.

Baca Juga:  Berkas Perkara Korupsi BLUD RSUD Mas Amsyar Dikembalikan

“Teladan orangtua akan dicontoh anak-anaknya dalam pembentukan karakter anaknya baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah,”bebernya.

Tak hanya itu, peran guru di sekolah juga cukup manjur untuk memberikan arahan pemikiran bagi anak didik untuk menjauhi atau mengenali apa saja perbuatan yang dilarang atau perbuatan yang merupakan suatu tindak pidana yang mempunyai sanksi berupa hukuman.

“Salah satu dengan memperkuat ilmu agama juga di kalangan anak, sehingga mereka benar-benar memahami bahwa penyimpangan yang dilakukan menjadi sebuah kejahatan atau sebuah tindakan criminal,”pungkas Firman. (okt/ala)