Mengenal Nikita, Generasi Muda Peduli Dunia Pendidikan

Generasi Muda
SALAM LITERASI: Nikita (kanan) sebagai salah satu pengajar di Ransel Buku saat bersama anak-anak Kelurahan Marang di Perpustakaan Ransel Buku, Sabtu (8/1). FOTO: ALBERT/KALTENG POS

Generasi muda masa kini tak jauh dari gadget mahal, berbagai macam aplikasi, dan game online pada ponsel android. Akan tetapi, tren itu ditepis oleh salah satu anak muda di Kota Palangka Raya ini. Keinginannya untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi banyak orang lebih kuat daripada mengikuti gaya hidup kaum muda masa kini.

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

ENTAH berapa lubang yang kami lewati menuju Kelurahan Marang, Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya. Sekitar tiga kilometer dari Jalan Tjilik Riwut Km 23, belok ke kanan. Jalan yang dilalui tak semuanya beraspal. Hanya separuh perjalanan saja. Selebihnya harus melalui jalanan berlubang penuh genangan air.

Tidak sempat menghitung jumlah lubangnya, karena tim Kalteng Pos fokus mengemudi melewati jalanan berlubang itu. Sungguh menantang. Akhirnya angkat tangan. Tak mampu memaksa lagi. Tim pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Pemandangan yang berbeda dari Kota Cantik. Letaknya memang tak jauh dari kota. Namun situasinya jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Di kelurahan ini terdapat perpustakaan ramah anak yang dibangun oleh Ransel Buku.

Berdiri sejak 2019 lalu bermodalkan bantuan donatur dari luar negeri. Menjadi salah satu program Ransel Buku setelah beberapa kali menjadi tempat persinggahan. Ferry Irawan, salah satu penggagas program ini mengaku memiliki mimpi membangun perpustakaan ramah anak di lingkungan ini, setelah sukses dengan Ransel Buku di Kelurahan Petuk Katimpun.

Baca Juga:  Dewan Segera Bahas Revisi Perda Kawasan Tanpa Rokok

“Kami bermimpi  untuk membuatkan tempat ramah anak belajar. Syukurlah ada donatur dari luar negeri yang membantu kami mewujudkan mimpi itu,” katanya saat diwawancarai, Sabtu (8/1).

Ferry mulai menggagas program sejak 2012 lalu. Bisa dikatakan sukses. Setelah berdirinya Ransel Buku yang kedua di Marang, ia berharap bisa membangun lagi di tempat lainnya. Kini, anak-anak di Kelurahan Marang bisa memanfaatkan literatur dan belajar bersama.

Nikita menjadi salah satu generasi muda di Kelurahan Marang yang aktif di Ransel Buku. Awalnya ia pun merupakan salah satu murid Ransel Buku. Kecintaannya terhadap mengajar membuatnya makin aktif belajar, meski tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ia hanya mengenyam pendidikan di tingkat SMA. Akan tetapi keinginanya menjadi sosok yang bermanfaat untuk orang-orang sekitar mendorongnya untuk berkarya. Tak mau berdiam diri saja.

Nikita memutuskan untuk tetap tinggal di tanah kelahirannya. Kelurahan Marang memang masih susah sinyal. Jalan akan berlumpur kala hujan turun. Nikita sama sekali tak terpegaruh teman-teman sebayanya yang mengadu nasib ke kota.

“Saya memang suka mengajar, saya menemukan hobi dan jiwa saya bersama anak-anak yang bergabung di Ransel Buku ini,” katanya saat dibincangi di sela-sela aktivitasnya di Ransel Buku, Sabtu (8/1).

Sempat terbesit dalam pikiran untuk pergi meninggalkan Marang. Namun, lagi-lagi suara hatinya membisikkan bahwa materi bukanlah segalanya. Ia mesti menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya. Apalagi aktivitasnya saat ini sejalan dengan hobinya.

Baca Juga:  Taheta, Minat Baca Warga Diharapkan Meningkat

“Saya lebih senang bersama mereka (murid Ransel Buku, red), terlebih saya juga melihat dampak positif semenjak adanya Ransul Buku di wilayah ini, saya bisa membantu mengajari mereka, rasa bahagia ini yang saya cari,” ungkapnya kepada Kalteng Pos.

Ransel Buku di Kelurahan Marang memiliki 30 peserta didik yang diberikan tambahan ilmu di luar jam sekolah. Dibuka dari Senin hingga Jumat, mulai dari pukul 10.00 WIB hingga 14.00 WIB. Ransel Buku juga membantu anak-anak yang kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan rumah.

“Jadi pulang sekolah mereka datang ke sini, kami bantu mereka apabila ada kesulitan mengerjakan tugas rumah. Saya merasa senang melihat mereka aktif belajar daripada menghabiskan waktu dengan bermain saja. Sebelumnya selepas sekolah anak-anak biasanya membantu orang tua bekerja. Namun, semenjak ada Ransel Buku ini, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar bersama, orang tua mereka juga antusias dan mendukungan,” ucapnya.

Kehadiran perpustakaan sederhana itu tidak hanya menarik minat anak-anak untuk belajar, tapi juga mengundang antusias masyarakat khususnya kaum ibu. Ada yang sekadar datang mengantar anaknya belajar. Tapi ada juga yang tertarik ikut membaca sejumlah buku. Salah satunya buku resep masakan.

“Senang dan bangga saya rasakan, meskipun saya hanya sekadar membantu di sini, tetapi ada perubahan yang terlihat. Dulu ada beberapa anak yang masih kecil tapi sudah merokok, sekarang tidak,” bebernya.

Ia menyebut, meski antusias masyarakat mulai terlihat, tapi fasilitas yang ada belum cukup memadai. Buku-buku yang tersedia pun terbatas.

“Yang ada ini stok lama. Masih belum ada buku-buku baru sebagai referensi bacaan untuk masyarakat,” tuturnya. (*/bersambung/ce/ala)