Murtosiah Raup Omzet Puluhan Juta dari Kalakai

Mengintip Kisah Sukses Pelaku Bisnis Camilan Khas Kalimantan Tengah
dari Kalakai
BERBAGI ILMU : Murtosiah (kiri) saat mempraktekan cara membuat kripik kalakai kepada ibu-ibu di salah satu kecamatan di Palangka Raya bersama ibu-ibu PKK, belum lama ini.

PALANGKA RAYA kalteng.co – Bagi masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng), kalakai tentu tidak asing lagi. Tanaman ini bisa dibeli di pasar-pasar tradisional di Kalteng. Dari Kalakai juga bisa ditemui di daerah rawa yang banyak terdapat di Kalteng. Berjalannya waktu, kalakai tak hanya nikmat disantap sebagai sajian sayur saja, tetapi kini bisa dinikmati sebagai camilan kripik, hingga menjadi salah satu bisnis menjanjikan.

Bisnis kripik kalakai digeluti Murtosiah sejak Tahun 2012, dengan modal awal sekitar Rp8 juta. Modal itu ia dapatkan dari Kopertis x1. Saat baru memulai usaha, ia banyak didukung oleh pemerintah, untuk meningkatkan keahlian ia diikutkan pelatihan pengolahan bahan baku menjadi makanan.

Satu tahun setelah merintis kripik kalakai khas Kalteng ini, Tahun 2013 Murtosiah berinovasi, membuat kripik seluang dan abon patin. Dengan Modal Rp1.500.000, perempuan kelahiran Jombang 19 Juni 1980 ini berhasil mempertahankan bisnisnya hingga kini dan memiliki tiga karyawan.

“Saya terinsiprasi membuat kripik kalakai, karena melihat ada peluang bisnis. Bahannya sangat melimpah di pasaran, makanya saya berpikir ada peluang saat itu, dan ada ilmu yang saya dapat dari hasil pelatihan, jadi langsung saya terapkan,” ungkap Murtosiah kepada Kalteng Pos, Rabu (13/1).

Baca Juga:  HUT ke-58 PT Taspen Berbagi

Mengenai harga per bungkus kripik kalakai, seluang dan abon patin, Murtosiah menjelaskan, untuk reseler dan ecer berbeda. Dalam satu bulan untuk kripik kalakai saja ia bisa menjual hingga 1500 picis.

“Kalau penjualan sehari hari tidak bisa dipastikan. Kalau hitungan dalam sebulan untuk kripik kalakai bisa 1200 sampai 1500 picis. Omzet sebulan kurang lebih Rp20 jutaan,” terangnya.

Berbicara tentang suka duka selama kurang lebih 9 tahun membuka usaha home industri camilan kalakai tentu kerap dirasakan Ibu dari tiga anak ini. Yang paling diingatnya adalah saat ia menitipkan jualannya di toko.

“Dagangan saya habis di toko itu, tapi pembayaran tidak sesuai dengan barang yang habis di toko itu. Ada juga, saya sudah percaya sama orang untuk membawa dagangan saya, tapi ternyata tidak dibayar. Semua itu saya anggap bagian dari perjalanan menuju kesuksesan. Kalau sukanya, jualan saya diterima pasar dan satu lagi, dapat uang,” cerita perempuan berkerudung ini.

Baca Juga:  Bank Kalteng Menjalin Kerja Sama Dengan Kejaksaan Tinggi Kalteng

Dalam hal pemasaran, Murtosiah mengaku, tidak mengalami kendala saat ini. Namun itu pernah ia rasakan saat pertama kali lockdown pandemi Covid-19 di Palangka Raya. Ia juga merasakan seperti yang pelaku usaha lainnya rasakan, tidak ada pemasukan sama sekali.

“Jadi saat itu sekitar tiga bulan tidak ada pemasukan sama sekali. Kalau sekarang sudah stabil,” ucap Murtosiah yang juga bekerja sebagai house keeping di Telkom Palangka Raya.

Meski pemasarannya tak terkendala, ia berharap, pemerintah bisa lebih memperhatikan pelaku usaha kecil seperti dirinya, dari segi penyediaan kemasan.

“Saat ini kemasan kripik sebagian saya order dari luar pulau. Di sini ada yang jual, tapi mahal. Makanya saya order dari Jawa,” tuturnya.

Agar bisnis bisa bertahan, perempuan yang memiliki hobi memasak ini memiliki tips bagi UMKM di Palangka Raya.

“Teruslah berinovasi, dengan inovasi yang bisa meningkatkan nilai tambah usahamu. Soal hasil berserah pada Tuhan yang maha kuasa,” tandasnya. (aza)