Impor Kalteng Turun 58,53 Persen

Impor Kalteng
DATA : BPS KALTENG

PALANGKA RAYA kalteng.co – Selama November 2020, nilai impor Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mencapai US$1,58 juta, turun 58,53 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar US$3,81 juta.

“Impor Provinsi Kalimantan Tengah berasal dari migas sebesar US$0,80 juta dan non migas dari sektor hasil industri sebesar US$0,78 juta,” ucap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, Eko Marsoro, belum lama ini.

Eko melanjutkan, dibanding November 2019, terjadi penurunan nilai impor 66,67 persen. Sementara secara kumulatif, nilai impor pada periode Januari-November 2020 juga lebih rendah dibandingkan nilai impor periode yang sama tahun 2019, yaitu turun sebesar 54,90 persen, dari US$66,25 juta menjadi US$29,88 juta.

Baca Juga:  Penjaga Makam Bercerita tentang Karamah sang Kiai

“Secara kumulatif, impor Kalteng didominasi oleh impor hasil industri sebesar US$17,10 juta,” ujarnya.

Untuk komoditas utama impor, jelas Eko, selama November 2020 adalah bahan bakar mineral berupa aspal (US$0,80 juta), mesin/pesawat mekanik berupa mesin boiler (US$0,70 juta), berbagai produk kimia berupa katalisator (US$0,07 juta), dan bahan kimia anorganik berupa klorida dari alumunium (US$0,01 juta).

Dibanding nilai impor pada Oktober 2020, terjadi penurunan impor pada November 2020 untuk seluruh golongan barang kecuali mesin/pesawat mekanik. Impor mesin/pesawat mekanik justru mengalami peningkatan sebesar 118,75 persen.

“Apabila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, selama November 2020 terjadi penurunan nilai impor untuk hampir pada seluruh golongan barang, kecuali bahan kimia anorganik,” ungkapnya.

Baca Juga:  Bank Kalteng Kasongan Apresiasi Dukungan Pemkab

Eko menambahkan, impor bahan bakar mineral mengalami penurunan terbesar yang mencapai US$2,42 juta atau turun sekitar 75,16 persen, diikuti pupuk yang turun sebesar US$0,59 juta atau turun 100,00 persen.

Secara kumulatif, Januari-November 2020, impor seluruh komoditas di Kalteng mengalami penurunan 54,90 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, kecuali bahan kimia anorganik yang mengalami kenaikan 207,14 persen dan mesin/peralatan listrik berupa generator pembangkit listrik yang mengalami kenaikan 140,26 persen.

“Kebutuhan impor masih didominasi oleh kelompok komoditas bahan bakar mineral senilai US$12,77 juta atau 42,74 persen dari total impor. Impor mesin/pesawat mekanik menempati urutan kedua dengan nilai kumulatif sebesar US$9,91 juta dan berkontribusi 33,17 persen terhadap total impor,” tandasnya. (aza)