Sengkarut Pengungkapan Narkoba

VIRTUAL: Agus (kiri atas) dan Erwin mengikuti jalannya sidang secara virtual.Foto:Agus Jaya/Kalteng.co

PALANGKA RAYA- kalteng.co, Perkara kepemilikan narkoba jenis sabu membawa oknum polisi Gusnawardhy alias Agus dan informan Muhammad Erwin duduk di kursi pesakitan. Agus diduga menguasai
sabu seberat 300 gram, dan Erwin sendiri sudah menjual 200 gram dari total 500 gram barang haram yang dipesan dari bandar narkoba yang ada di Banjarmasin.
Sengkarut dalam upaya pengungkapan kasus peredaran narkoba terungkap setelah Dirresnarkoba Polda Kalteng waktu itu Kombes Pol Bonny Djianto mencium gelagat tidak beres dari anak buahnya itu. Tanpa ampun, langsung memproses.

Dalam fakta persidangan di Pengadilan Negeri Palangka Raya ,Selasa ( 10/2), kedua terdakwa memberi kesaksian di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Heru Setiyadi. Erwin mendapatkan giliran pertama.
Erwin yang merupakan informan dari Agus ini menceritakan awal mula terjadinya transaksi sabu sebanyak 500 gram sampai dirinya ditangkap oleh pihak Ditresnarkoba Polda Kalteng beberapa hari setelah transaksi tersebut dilakukan.
Awalnya Jumat, 27 September, Erwin melakukan video call untuk memesan barang sebanyak setengah kilogram (500 gram). Agar membuat percaya bandar yang bernama Alex yang ada di Lapas Teluk
Dalam, Kalsel, ia menunjukkan uang yang dipinjam dari rekannya sebanyak Rp400 juta. Transaksi sepengetahuan Agus dan Sugianto yang keduanya merupakan anggota polisi dinas di Ditresnarkoba.
Tujuan transaksi ini adalah untuk mengungkap dan menangkap
pelaku peredaran narkoba Palangka Raya. Akhirnya sepakat.


Selang waktu berlalu, Erwin mendapat informasi bahwa sabu sebanyak 500 gram yang dipesannya telah sampai. Lalu diminta untuk mengambil barang tersebut di kawasan Jalan Adonis Samad.
Erwin mengakui dirinya sempat berkonsultasi dengan Sugianto apakah
dirinya mengambil barang tersebut atau menunggu kedatangan dari Agus yang saat itu sedang dalam perjalanan dari Sampit.
“Kata Sugianto saya diminta menunggu Pak Agus dulu. Tapi saya ditelepon terus sama Ayi dan Akim disuruh cepat mengambil barang karena mereka tidak mau menunggu,“ kata residivis kasus
narkoba itu. Erwin pun memutuskan untuk mengambil sendiri.
”Saya mengambil barang tersebut sekitar jam 12.00 di Adonis samad, di seberang hotel, di bawah pohon beringin,di dalam ban bekas,” ujarnya lagi. Erwin berpikir culas. Ia memecah paket sabu 500 gram tersebut menjadi dua. Ia sisihkan 200 gram. Diserahkannya kepada Ocan, yang merupakan adik dari Hartono. Dalam sidang sebelumnya,
Hartono merupakan warga binaan di Lapas Klas IIA Palangka Raya, yang menyambungkan Erwin dengan Alex. Ocan menjual sabu untuk mendapat uang cash, dan dibagi dengan Hartono, sebagai upah mereka membantu polisi untuk mengungkap kasus peredaran narkoba di Sampit beberapa waktu sebelumnya. Setiba Agus di Palangka Raya, Erwin memberikan 300 gram. “Saya katakana kalau barang yang datang
hanya 300 gram. Lalu sabu disimpan Agus,”ucapnya.

Baca Juga:  Tidak Hujan Beberapa Hari, Titik Api Mulai Muncul di Gunung Mas


Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Kalteng Anton Rahmanto melontarkan pertnyaan kepada Erwin. Berapa lama Agus menyimpan paket sabu tersebut, dijawab Erwin selama lima hari.
Erwin sempat menemani Agus pada keesokan harinya untuk berangkat ke Banjarmasin guna bertemu langsung dengan kurir narkoba dengan maksud memesan lagi paket sabu dalam jumlah yang lebih besar. Namun rencana dikatakan Erwin gagal, karena saat mereka mendekati Banjarmasin, hubungan komunikasi terputus. Erwin mengaku dirinya sendiri ditangkap oleh petugas Ditresnarkoba setiba dirinya dari Banjarmasin. Anggota majelis hakim sempat mencecar erwin dengan berbagai pertanyaan karena menganggap beberapa keterangannya di persidangan dirasa sangat janggal dan meragukan.

Baca Juga:  Lapas Palangka Raya Pastikan Tidak Ada Pembesuk saat Lebaran