
KALTENG.CO-Penyakit asma pada penderitanya kerap kali datang secara tetiba. Orangtua jangan langsung panik. Dengan penanganan yang tepat, panyakit asma tidak akan menjadi momok serius.
Orang tua memiliki riwayat alergi debu dan mengakibatkan asma? Nah, asmanya berpotensi menjadi warisan bagi si kecil, loh. Asma tidak bisa disembuhkan, tapi dapat dikontrol. Caranya, hindari pemicu atau penyebab asma.
Selain sesak napas, gejala asma yang muncul adalah nyeri dada, batuk-batuk, dan mengi (whizzing). Asma tidak mengenal usia. Siapa pun bisa jadi terserang asma, termasuk anak-anak bahkan balita.
Pada 2016, menurut WHO, diperkirakan lebih dari 339 juta orang menderita asma secara global dan terdapat 417.918 kematian akibat asma di tingkat global. Dokter Deasy Fiasry SpA mengatakan, bayi yang lahir prematur berpotensi menderita asma. Sebab, bayi prematur tidak jarang ada kelainan pada paru-parunya.
’’Salah satu gejala pada asma yaitu sesak napas, tapi tidak selalu sesak napas itu asma,” tuturnya.
Dokter yang berpraktik di Mayapada Hospital Surabaya itu menyebutkan penyebab asma tidak melulu karena pilek, kemudian produksi lendir berlebihan. Tersedak makanan, alergi, gugup berlebihan, serta obesitas juga bisa memicu asma.
Namun, dari beberapa pemicu yang ada, menurut dokter yang juga konselor laktasi itu, orang tua tak mengenal pemicu hingga gejala asma. Karena itu, dia mengungkapkan bahwa orang tua perlu memahami gejala asma pada anaknya.
Serangan asma anak terbagi menjadi tiga. Pertama, asma dengan serangan ringan. Anak-anak masih bisa jalan, nada bicaranya masih keras, tapi ada whizzing. Kedua, serangan asma sedang. Anak menangis, napasnya pendek, dan nggak mau makan. Terakhir, serangan berat. Tanda napasnya berat, anak berhenti bicara, duduknya bertopang tangan, hingga tarikan dadanya dalam ketika bernapas.
Deasy menyatakan, saat anak kambuh dan dinilai membahayakan nyawa, orang tua perlu segera membawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Namun, apabila asmanya masih terbilang ringan, bisa diberi obat yang diresepi oleh dokter. Jangan lupa untuk memperbaiki posisi duduk anak-anak.
Apakah anak-anak boleh menggunakan inhaler? Deasy menjelaskan, inhaler bisa dipakai sejak dokter menyatakan anak menderita asma. Untuk usia anak di bawah 3 tahun, dia menyarankan supaya menggunakan alat bantu. Supaya obat pada inhaler bisa masuk ke dalam saluran napas terkecil di paru-paru.
’’Sebelum usia 7 tahun, jika anak belum bisa diajak berkoordinasi, tetap pakai alat bantu,” tambahnya.
Selain hidup bersih dan menghindari pemicu, anak-anak dengan asma disarankan untuk berjemur. Anak dengan usia di atas 2 tahun 15–30 menit. Sementara anak berusia di bawah 2 tahun disarankan 5–10 menit. Sebelum berjemur, orang tua wajib memperhatikan jamnya. Di setiap wilayah, jam UV indeks sinar matahari berbeda-beda.
Anak-anak yang menderita asma tetap boleh beraktivitas seperti olahraga. Dengan catatan, olahraganya bisa ditoleransi. Lari, misalnya. Deasy menyampaikan, ada atlet maraton yang juga menderita asma. Seperti Jakie Joyner-Kersee, Amy Van Dyken, dan Dennis Rodman. Selain lari, anak bisa memilih olahraga berenang atau jalan santai.
Vaksinasi asma bisa diberikan untuk mencegah infeksi saluran pernapasan pada anak. Vaksin influenza dan pneumococcal conjugate vaccine (PCV). Menurut IDAI tahun 2020, untuk mencegah serangan infeksi pernapasan yang dapat memberatkan kepada anak yang juga bisa terinfeksi Covid, vaksin influenza dan PCV diwajibkan untuk anak. Vaksin PCV bisa diberikan kepada anak di atas usia lebih dari 2 bulan. Dan, vaksin influenza untuk anak 6 bulan.
BEBERAPA TIPS MENCEGAH GEJALA ASMA
• Minimalkan debu dan kotoran hewan peliharaan. Bersihkan secara rutin.
• Ajari anak untuk hidup bersih dan sehat. Salah satunya rajin cuci tangan agar risiko terpapar pilek bisa terminimalkan.
• Selalu reminder juga ke anak untuk menghindari pemicu asma. Misal, pemicunya debu atau asap rokok. Maka, anak harus jauh dari debu atau asap rokok.
• Boleh dibekali inhaler saat anak di luar rumah atau beraktivitas di sekolah. Lalu, jangan lupa ajari anak pakai inhaler.
*) Dokter Deasy Fiasry SpA, Spesialis Anak Mayapada Hospital Surabaya. (Dikutip dari JawaPos.com/tur)



