BeritaMETROPOLISPENDIDIKAN

Fashion Educator, Bertekad Tidak Akan Pensiun

KALTENG.CO-Aryani Widagdo merupakan sosok pekerja keras sekaligus pendidik. Desainer senior ini memiliki fashion sebagai seorang pendidik yang sudah mendarah daging.

Pensiun dari dunia fashion dan jahit adalah hal yang paling dihindari. Pada usia 73 tahun, Aryani masih aktif membuka kelas. Dia ingin keterampilan itu tak musnah dan bisa menghidupi lebih banyak orang.

Nyaris setiap hari Aryani menghabiskan waktu di depan laptop. Gawai itu setia menemaninya melakukan riset, menyiapkan kelas, terhubung dengan murid-muridnya, sampai berbagi cerita di media sosial.

Pada usia 73 tahun, dia belum ingin bersantai. Selalu ada yang dikerjakan nenek empat cucu tersebut. ”Malah nggak enak kalau nganggur, bingung karena banyak waktu, mau ngapain?” ungkapnya.

Sejak 2014, Aryani memang tak lagi tergabung di Arva School of Fashion yang didirikannya. Namun, setahun berselang, Aryani memutuskan kembali aktif. Dia membuka Aryani Widagdo Creativity Nest, yang punya program kelas pendek. Sebagian besar kelasnya dilakukan secara daring atau online.

Dia mengenang, konsep kursus dirombak menyesuaikan zaman. Dulu, papar Aryani, kursus menjahit bisa berlangsung hingga dua tahun. Pertemuannya pun mencapai 2–3 kali sepekan. ”Sekarang orang nyarinya yang praktis dan ringkas. Jadi, kelas saya buat 4–5 jam dan ada hasil jadinya,” jelasnya.

Perempuan yang tertarik menekuni fotografi itu menjelaskan, kelasnya memang dibuat sekali jalan. ”Kalau enggak selesai, dibuat PR, malah enggak selesai karena keburu sibuk mengerjakan lainnya,” kata Aryani.

Dia mengakui, proyek Aryani Widagdo Creativity Nest berbeda dengan Arva School of Fashion. Kelasnya lebih kecil. Program yang ditawarkan pun berfokus pada desain zero waste.

”Karena itu, creativity nest ini nggak bisa besar atau jadi perusahaan. Selain skalanya kecil, target saya juga lebih ke ibu-ibu dan penggiat UMKM,” tegasnya.

Aryani mengungkapkan, peserta kursusnya didominasi kalangan ibu rumah tangga serta perajin. Ada pula yang sepantarannya: perempuan pascapensiun yang mencari kesibukan.

Proyek yang kini dia jalankan bersama lima staf itu pun sempat terhalang pandemi. Namun, masa sulit itu justru menjadi berkah terselubung buatnya. ”Awalnya, saya pengin buat kelas online supaya menjangkau lebih banyak orang. Nah, saat pandemi, muncullah kelas-kelas Zoom,” ungkapnya.

Aryani mengakui, untuk memaksimalkan platform tersebut, dirinya dan tim harus bekerja ekstrakeras. Persiapan kelas lebih panjang. Tutorial pengerjaan –yang jika di kelas konvensional bisa disiapkan dalam hitungan jam– memakan waktu lebih panjang. Sebab, video perlu beberapa kali take. Belum lagi, ada editing dan penyematan teks.

Meski demikian, menurut penggemar wastra Nusantara itu, opsi kelas daring adalah yang terbaik buatnya. ”Sampai sekarang, saya belum buka kelas offline. Kecuali untuk undangan pelatihan di tingkat RT atau UMKM,” ujar Aryani.

Dia menyatakan, sebelum pandemi, kelas luringnya pun tak terlalu besar. Jumlah muridnya dibatasi maksimal belasan orang saja.

Lewat Aryani Widagdo Creativity Nest, dia berharap bisa menularkan kesukaan pada menjahit. Dia merasa miris karena keterampilan itu makin sedikit diminati. Di sisi lain, perempuan yang aktif berbagi di media sosial tersebut ingin membantu para pelaku UMKM. Khususnya yang memiliki produk kain.

”Kalau diperjualbelikan dalam bentuk outerwear, kain kan punya nilai plus. Setidaknya harga jualnya bisa naik,” paparnya.

Dan, yang paling penting, Aryani ingin menyebarluaskan desain zero waste. Yakni, rancangan pakaian yang bagian sisanya masih bisa dimanfaatkan kembali. ”Limbah fashion kita termasuk yang paling tinggi. Langkah ini saya harap bisa membuat masyarakat lebih sadar dengan apa yang dipakai,” tutur Aryani.

TENTANG ARYANI

– Aryani juga penggemar short course. Dia pernah mengambil kelas fotografi dan menulis.

– Di Facebook, dia memiliki laman Teman Aryani. Isinya adalah sharing karya dari murid kelas creativity nest-nya.

– Akibat kesibukan persiapan kelas, peluncuran buku kedua Aryani –yang mengusung tema zero waste fashion– terpaksa mundur. Saat ini progresnya sekitar 50 persen.

– Dalam desainnya, dia paling banyak menggunakan batik Bali yang punya banyak warna. (Dikutip dari JawaPos.com/tur)

Related Articles

Back to top button