OPINI

Hubungan Kondisi Penyerta dan Usia dengan Covid-19, Hoax atau Bukan?

Apakah Anda pernah mendengar berita bahwa sebagian besar penderita Covid-19 juga merupakan penderita komorbiditas seperti hipertensi atau penyakit jantung? Atau apakah Anda pernah mendengar bahwa anak-anak dan lansia lebih mungkin untuk terkena Covid-19? Apabila iya, menurut Anda, benarkah pernyataan tersebut? Mari kita simak.

Semenjak Covid-19 dinyatakan telah menyebar secara resmi di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020, angka kasus positif telah meningkat pesat sejak saat itu. Penyakit saluran pernapasan yang penyebarannya sangat mudah ini, yakni melalui droplet dan secara tidak langsung dapat melalui kontak dengan orang lain yang positif terinfeksi virus tersebut, masih menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan ilmuwan dan dokter mengenai naturnya.

Berdasarkan Peta Sebaran Covid-19 Indonesia oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 terhitung hingga tanggal 30 Juni 2020, berikut merupakan kondisi penyerta kasus positif Covid-19 dengan persentase terbanyak.

            Dapat kita lihat bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi menempati nomor satu, sebagai komorbiditas yang paling sering ditemukan pada orang-orang yang positif terkena Covid-19, yang disertai dengan komorbiditas dengan angka 51 persen. Tidak hanya itu, dari seluruh kasus positif yang memiliki riwayat hipertensi, sebanyak 13,2 persen akhirnya meninggal dunia.

            Kemudian, kita juga dapat melihat, dengan 34.7 persen dari seluruh kasus positif Covid-19 yang memiliki kondisi penyerta, Diabetes Melitus (DM) menempati posisi kedua sebagai kondisi penyerta atau komorbiditas yang paling banyak ditemukan pada kasus positif Covid-19 setelah hipertensi. Sebanyak 11,6 persen dari seluruh kasus positif Covid-19 dengan komorbiditas diabetes melitus akhirnya meninggal dunia.

            Meskipun angka tersebut terlihat besar dan menakutkan, apabila kita perhatikan grafik, tertulis bahwa 97.6persen dari kasus positif Covid-19 tidak memiliki kondisi penyerta. Walaupun terdapat kemungkinan bahwa masih ada data yang belum terekam sempurna, namun hal ini menandakan bahwa hanya sekitar 2.4 persen saja atau sebagian kecil dari seluruh kasus positif Covid-19 merupakan orang-orang yang memiliki kondisi penyerta. Dengan ini, kita dapat menyatakan bahwa berita mengenai sebagian besar penderita Covid-19 juga merupakan penderita komorbiditas tidaklah sesuai dengan kenyataannya. 

            Selanjutnya, kita juga sering mendengar bahwa umur berpengaruh terhadap kemungkinan kita untuk terkena penyakit Covid-19. Berita yang sering kita dengar tersebut menyatakan bahwa anak-anak dan lansia lebih rentan terkena penyakit Covid-19.

            Dapat kita lihat melalui data sebaran umur kasus positif Covid-19 berdasarkan Peta Sebaran Covid-19 Indonesia, oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 terhitung hingga tanggal 30 Juni 2020, bahwa lansia dan anak-anak bukanlah rentang usia dengan kasus positif Covid-19 terbanyak. Justru, orang-orang di usia produktiflah yang memiliki persentase kasus positif terbanyak. Kita dapat melihat pada grafik bagaimana 22,3 persen dari seluruh kasus positif merupakan mereka yang berada di rentang usia 18-30 tahun, 30.4 persen berada di rentang usia 31-45 tahun, dan 26 persen berada di rentang usia 46-59 tahun. Dapat kita simpulkan bahwa sekitar 78.7 persen dari seluruh kasus positif Covid-19 merupakan mereka yang berusia 18-59 tahun.

            Hal ini cukup sejalan dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, mengenai prevalensi hipertensi yang menyatakan bahwa 31.6 persen dari semua orang di usia 31-44 tahun dan 45.3 persen dari semua orang di usia 45-54 tahun memiliki komorbiditas hipertensi. Ini menandakan bahwa, benar, terdapat hubungan antara usia dan komorbiditas terhadap Covid-19.

            Namun, apabila kita kembali pada grafik sebaran usia, kita dapat melihat bahwa meskipun kasus positif terbanyak berada di rentang usia 31-45 tahun, kasus meninggal dunia paling banyak terdapat di rentang usia ≥ 60 tahun atau yang dapat kita sebut sebagai lansia.

            Tidak hanya itu, apabila kita perhatikan pada rentang usia 0-5 tahun, meskipun persentase positif dan persentase meninggal dunia terlihat kecil, namun hal ini justru cukup mengkhawatirkan. Kelompok usia 0-5 tahun dari awal hanya mencakup 2.3 persen dari seluruh kasus positif, sehingga angka 1 persen sebagai persentase yang meninggal dunia dari seluruh kelompok umur merupakan angka yang cukup signifikan.

            Hal ini menandakan bahwa meskipun lansia dan anak-anak bukanlah kelompok umur yang paling banyak memiliki kasus positif Covid-19, namun lansia dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan untuk meninggal dunia akibat Covid-19. Kondisi ini bisa disebabkan oleh karena komorbiditas yang banyak ditemukan pada orang-orang lanjut usia dapat menyebabkan manifestasi klinis yang lebih parah, juga oleh karena sistem imun anak-anak yang belum sempurna serta lansia yang sudah menurun.

            Kita akhirnya dapat mengerti bahwa meskipun benar terdapat hubungan antara usia dan komorbiditas terhadap kasus Covid-19, hal tersebut bukan berarti lansia, anak-anak, dan orang dengan komorbiditas lebih rentan terkena penyakit Covid-19. Namun, usia dan komorbiditas dapat memengaruhi keparahan penyakit yang dapat berujung pada kematian.  Semua orang, terlepas dari usia dan komorbiditas, memiliki kemungkinan yang sama untuk terkena Covid-19. Apabila Anda tidak memiliki komorbiditas, bukan berarti Anda aman dari penyakit ini, dan apabila Anda memiliki komorbiditas, bukan berarti Anda mutlak akan terkena penyakit ini.

            Oleh sebab itu, mengingat bahwa kita sedang memasuki era New Normal, kita tetap harus menjalankan dan tetap mematuhi setiap protokol kesehatan, seperti contoh, menjaga jarak atau social distancing, menggunakan masker, dan mencuci tangan sebelum dan sesudah berbagai aktivitas, supaya kita dapat terhindar dari penyakit Covid-19.(*)

*) Penulis adalah Dokter Puskesmas Lemo, Barito Utara. Alumni Universitas Sebelas Maret Surakarta

Related Articles

Back to top button