Penyebab Sering Terjadinya Kasus KDRT, Ini Kata Ketua Satgas PPA Kalteng

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih menjadi permasalahan kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Ketua Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalimantan Tengah Widya Kumala mengungkapkan, penyebab KDRT dapat dikategorikan dalam beberapa aspek, termasuk sosial, psikologis, ekonomi, dan lingkungan.
“KDRT bukan sekadar persoalan individu, tetapi juga berkaitan dengan budaya patriarki, stereotip gender, serta ketergantungan ekonomi yang dialami korban,” ujarnya, Sabtu (9/2/2024).
Widya menjelaskan, dalam faktor sosial, sistem patriarki dan kurangnya pemahaman mengenai hak perempuan masih menjadi pemicu utama. Selain itu, ketergantungan ekonomi juga membuat korban sulit untuk keluar dari siklus kekerasan.
Dari sisi psikologis, trauma masa lalu dan kurangnya kontrol emosi dapat mendorong seseorang menjadi pelaku KDRT. Sedangkan faktor ekonomi, seperti kemiskinan dan tekanan finansial, juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kekerasan dalam rumah tangga.
“Tak hanya itu, penggunaan alkohol dan narkoba serta kurangnya dukungan sosial dapat memperburuk kondisi korban, membuat mereka merasa terisolasi dan enggan melaporkan kekerasan yang dialami,” tambahnya.
Ia menegaskan, tidak semua pelaku KDRT mengulang perbuatannya, meskipun ada faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan tersebut, seperti riwayat kekerasan sebelumnya, kecanduan zat terlarang, dan kurangnya kontrol emosi.
Menurutnya, pelaku KDRT bisa berubah, tetapi membutuhkan proses panjang yang mencakup kesadaran, motivasi, pendidikan, terapi, serta dukungan sosial.
“Perubahan hanya bisa terjadi jika pelaku menyadari kesalahannya dan mau berusaha memperbaiki diri melalui terapi atau program rehabilitasi,” katanya.
Korban KDRT yang mengalami kekerasan fisik harus segera melaporkan kejadian tersebut kepada penegak hukum atau layanan UPT PPA Kalteng.
Selain itu, korban juga cenderung membutuhkan bantuan psikologis untuk mengatasi trauma yang dialami.
“Banyak korban mengalami gangguan emosi, kecemasan, hingga depresi akibat kekerasan yang mereka terima,” tegasnya..
Untuk mencegah terjadinya KDRT, ia memberikan beberapa imbauan, antara lain seperti membangun komunikasi efektif dalam rumah tangga, menghormati perbedaan dan mengelola konflik dengan kepala dingin.
Kemudian menumbuhkan kepercayaan dengan pasangan dan dengan segera menyelesaikan masalah kecil sebelum berkembang menjadi konflik besar.
“Mencegah KDRT membutuhkan kerja sama semua pihak, baik keluarga, masyarakat, maupun pemerintah. Kesadaran dan dukungan sosial sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak,” tutupnya. (oiq)
EDITOR: TOPAN



