Waspada Brain Rot! Dampak Buruk Scrolling Berlebihan pada Otak dan Fokus

KALTENG.CO-Kamu pernah merasa makin sulit fokus baca artikel panjang setelah berjam-jam scrolling TikTok atau Instagram? Kamu tidak sendirian.
Banyak dari kita merasakan bahwa attention span atau kemampuan fokus dalam jangka waktu lama semakin melorot. Tapi, apakah itu cuma perasaan, atau ada bukti ilmiahnya? Artikel ini mengupas fakta terbaru tentang bagaimana screen time yang tinggi berdampak nyata terhadap fokus otak kita.
Otak Terlalu Terstimulasi: Awal Mula Masalah
Menurut Atrius Health, aplikasi media sosial memang dirancang agar kita terus kembali dengan desain yang memicu kecanduan. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memperpendek rentang perhatian, meniru kondisi seperti ADHD, dan menyulitkan remaja untuk fokus pada tugas yang memerlukan konsentrasi tinggi. Ini artinya, bukan cuma pengguna muda, tapi otak kita terbiasa dengan konten yang cepat dan serba instan. Padahal, tugas-tugas yang serius membutuhkan ketenangan dan durasi yang lebih panjang.
Fenomena ini melahirkan istilah yang cukup populer, popcorn brain.
Popcorn Brain atau Pikiran yang Meletup-letup
Istilah popcorn brain dipopulerkan untuk menggambarkan kondisi mental ketika pikiran terus meloncat-loncat, seperti jagung yang meletup-letup saat dimasak. Dilansir dari PopSugar, fenomena ini terjadi akibat overstimulasi dari layar dan notifikasi, sehingga membuat pikiran jadi terfragmentasi atau sulit fokus pada satu hal dalam satu waktu.
Gejalanya? Sulit menyelesaikan tugas, mental terasa penuh, bahkan sulit mengatur emosi. The Standard menggambarkan pengalaman harian siswa yang merasa lebih sulit memproses teks panjang atau kuliah, karena otak mereka terbiasa dengan konten singkat yang mudah diganti saat bosan.
Data dari Pew Research menunjukkan 31% remaja mengaku kehilangan fokus karena ponsel. Bahkan ada yang membandingkan rentang perhatian kita kini lebih pendek dibanding ikan mas! Ini bukan hiperbola, melainkan realita yang dialami oleh banyak pelajar dan pekerja.
Setiap Tambahan Waktu Layar Membuat Otak Lebih Lambat
Riset terkini yang dilansir Times of India mengungkap bahwa semakin lama remaja usia 18-25 tahun menggunakan layar dan multitasking digital, semakin lambat respons mereka dan semakin menurun akurasi fokusnya. Otak kewalahan menangani banyak input digital sehingga membuat proses berpikir dan reaksi jadi kurang tajam.
Ada istilah dramatis tapi cukup menggambarkan kondisi ini: brain rot. Oxford University Press bahkan menetapkannya sebagai kata tahun 2024, merujuk pada penurunan fungsi kognitif karena doomscrolling.
Doomscrolling diartikan sebagai scrolling tanpa henti pada konten-konten sepele. Kebiasaan ini menyebabkan otak jadi malas membangun hubungan neural yang kuat dan malah melemah. Kabar buruknya, hal ini bisa mengurangi konsentrasi, memori, dan bahkan menyebabkan kaburnya motivasi.
Cara Efektif dan Sederhana untuk Mengatasinya
Jika kamu merasakan efek negatif di atas, jangan khawatir. Berikut beberapa strategi praktis untuk memulihkan fokus otakmu:
- Batasi screen time harian. Coba kurangi dulu 30 menit sampai 1 jam sehari di luar waktu kerja atau sekolah. Gunakan fitur batasan waktu di ponselmu jika perlu.
- Buat area bebas gadget. Tentukan zona tertentu seperti meja makan atau kamar tidur sebagai area bebas ponsel. Ini membantu otakmu beristirahat dari paparan layar.
- Gunakan teknik Pomodoro. Coba fokus 25 menit, lalu istirahat 5 menit. Teknik ini membantu otak agar terbiasa dengan periode fokus yang intens dan terstruktur.
- Kurangi notifikasi yang tidak penting. Matikan notifikasi dari media sosial yang sering mengganggu konsentrasimu.
- Alihkan perhatian ke aktivitas analog. Baca buku, jalan-jalan di luar ruangan, atau mengobrol langsung dengan teman. Aktivitas ini membantu otak melatih fokus yang lebih lama dan membangun kembali koneksi sosial yang nyata.
High screen time memang nyata menggerus rentang perhatian kita. Tapi bukan berarti kemampuan fokusmu luntur selamanya.
Dengan kesadaran dan beberapa perubahan gaya hidup digital, kamu bisa membantu otakmu kembali fokus. Ketahui, sadari, lalu mulai perbaiki, agar otakmu tidak lagi menjadi popcorn brain yang bingung sendiri, tapi bisa fokus dengan tenang dan penuh kesadaran. (*/tur)



