Mana yang Lebih Hijau? Membongkar Mitos dan Fakta Perbandingan Emisi EV dan Hybrid
KALTENG.CO-Perdebatan mengenai mana yang lebih ramah lingkungan antara kendaraan listrik (EV) dan mobil hybrid kembali memanas. Hal ini dipicu oleh pernyataan kontroversial Chairman Toyota, Akio Toyoda.
Menurutnya, satu mobil listrik bisa menghasilkan polusi setara dengan tiga mobil hybrid, terutama di Jepang, di mana pasokan listrik masih sangat bergantung pada pembangkit berbahan bakar fosil.
Pernyataan ini memicu pertanyaan global yang fundamental: apakah EV benar-benar lebih hijau dibandingkan hybrid, atau ada faktor lain yang perlu diperhitungkan?
“Utang Karbon” di Balik Produksi Mobil Listrik
Para peneliti sepakat bahwa mobil listrik memang memiliki “utang karbon” yang lebih besar saat pertama kali diproduksi. Proses pembuatan baterai berkapasitas tinggi, yang memerlukan bahan-bahan seperti litium, kobalt, dan nikel, menghasilkan 11–14 ton emisi CO2. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan produksi mobil bensin atau hybrid yang hanya menghasilkan 6–9 ton CO2.
Namun, cerita tidak berhenti sampai di situ. Begitu digunakan, EV mulai “melunasi” utang karbon tersebut. Karena tidak menghasilkan emisi gas buang di jalan, EV secara bertahap mengurangi jejak karbon totalnya. Sebaliknya, mobil hybrid dan bensin terus menambah emisi sepanjang masa pakainya.
Sebuah studi dari Argonne National Laboratory (2023) menunjukkan bahwa EV hanya membutuhkan sekitar 19.500 mil (sekitar dua tahun pemakaian di Amerika) untuk menutupi emisi produksinya. Mengingat rata-rata masa pakai mobil di Amerika lebih dari 10 tahun, EV hampir selalu berakhir dengan jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan kendaraan hybrid atau bensin.
Hybrid: Solusi Transisi atau Jalan Tengah?
Mobil hybrid jelas lebih ramah lingkungan dibandingkan mobil bensin konvensional, terutama untuk penggunaan di perkotaan. Namun, penting untuk membedakan antara hybrid biasa dan plug-in hybrid (PHEV).
- Hybrid Biasa: Menggunakan baterai kecil untuk jarak yang sangat pendek sebelum mesin bensin mengambil alih.
- Plug-in Hybrid (PHEV): Dilengkapi baterai yang lebih besar, memungkinkannya menempuh jarak hingga 50 mil dengan tenaga listrik murni sebelum mesin bensin menyala.
Meskipun keduanya menghasilkan emisi lebih rendah, mereka tetap bergantung pada bahan bakar fosil. Secara total emisi, PHEV berada di posisi antara EV murni dan mobil bensin konvensional.
Siapa yang lebih hijau tidak bisa disamaratakan. Seperti yang dikatakan Akio Toyoda, di negara-negara yang infrastruktur listriknya masih bergantung pada batu bara atau energi fosil, EV memang memiliki jejak karbon yang lebih besar. Namun, di negara-negara dengan bauran energi terbarukan tinggi seperti Norwegia, EV jauh lebih unggul dalam hal emisi jangka panjang.
Pada akhirnya, perdebatan EV vs hybrid tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang kesiapan infrastruktur energi masing-masing negara. EV menawarkan potensi emisi nol dalam jangka panjang, menjadikannya pilihan masa depan.
Sementara itu, hybrid bisa menjadi solusi transisi yang efektif di wilayah yang masih dalam proses menuju energi terbarukan. (*/tur)




