UPR Pimpin Riset Transformasi Lahan Rawa untuk Ketahanan Pangan Nasional
PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Sektor pertanian bukan sekadar penyedia bahan pangan; ia adalah tulang punggung ekonomi nasional, penyerap tenaga kerja terbesar, dan garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Namun, tantangan besar membayangi: konversi lahan pertanian yang mencapai 100.000 hektar per tahun akibat industrialisasi dan pemukiman.
Menjawab tantangan ini, Universitas Palangka Raya (UPR) mengambil peran krusial dalam mendukung program strategis nasional “Cetak Sawah”, khususnya dalam mengoptimalkan potensi lahan rawa di Kalimantan Tengah melalui pendekatan sains dan mekanisasi modern.
Urgensi Cetak Sawah dan Tantangan Lahan Marginal
Program Cetak Sawah adalah upaya ekstensifikasi untuk menambah luas lahan produktif baru guna mencapai swasembada pangan. Di Kalimantan Tengah, target ini sangat ambisius namun penuh tantangan teknis. Salah satu hambatan utama adalah karakteristik geoteknik lahan rawa yang memiliki daya dukung rendah dan kompresibilitas tinggi.
Di sinilah peran akademisi menjadi vital. Tanpa kajian ilmiah, penggunaan alat berat konvensional justru akan merusak struktur tanah. UPR hadir untuk memastikan bahwa transformasi lahan ini dilakukan dengan presisi, berbasis data, dan berkelanjutan.
UPR di Garis Depan: Riset, Inovasi, dan Kolaborasi Strategis
Sebagai implementasi dari Nota Kesepahaman (MoU) antara Universitas Palangka Raya (UPR), Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPH) Provinsi Kalteng, serta PT Komatsu Marketing and Support Indonesia, sebuah langkah konkret telah diambil.
Tim Riset Multidisiplin Fakultas Pertanian UPR
Fakultas Pertanian UPR menurunkan tim ahli terbaiknya untuk mengevaluasi efektivitas mekanisasi di lahan rawa, yang terdiri dari:
- Prof. Dr. Ir. Sosilawaty, M.P.
- Dr. Ir. Nyahu, M.P.
- Dr. Ir. Untung Darung, M.P.
- Fengky F. Adji, S.P., M.P., Ph.D.
- Dr. Lendra, S.T., M.T. (dan tim ahli lainnya).
Fokus utama riset ini adalah mengevaluasi penggunaan unit khusus seperti Komatsu Farming Bulldozer D21PL dan D32PLL. Alat ini dirancang khusus untuk tanah lunak agar tidak terjadi ground pressure berlebih yang dapat merusak porositas tanah.
Implementasi Lapangan: Tanam Perdana di Blok A5 Dadahup
Puncak dari kolaborasi ini ditandai dengan aksi nyata pada 15 Desember 2025. Di areal Blok A5, Desa Bentuk Jaya, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas, UPR bersama berbagai stakeholder melakukan penanaman perdana benih padi varietas Inpari 32 HDB di lahan seluas 6 hektar.
Metodologi Riset yang Diterapkan:
- Uji Mekanisasi: Membandingkan pengolahan lahan menggunakan mesin modern (Farming Bulldozer) seluas 3 ha dengan metode hand tractor (Quick G1000 Boxer) seluas 3 ha.
- Variasi Metode Tanam: Penerapan metode Tanam Benih Langsung (TABELA) pada 4 ha lahan, Tebar Benih Manual pada 1 ha, dan Tanam Benih Pindah (TAPIN) pada 1 ha.
Langkah ini bertujuan untuk menemukan standar pengolahan tanah (SOP) terbaik yang dapat diadaptasi secara khusus untuk karakteristik tanah Kalimantan Tengah.
“Tujuan utama kami adalah menciptakan kondisi tanah yang paling sesuai untuk pertumbuhan tanaman dengan intervensi mekanisasi yang efisien, namun tetap berbasis pada kearifan lokal (local knowledge).”
Masa Depan Food Estate: Sinergi Teknologi dan Kearifan Lokal
Data menunjukkan adanya tren positif di Kalimantan Tengah dengan kenaikan produksi padi sebesar 10,69% pada tahun 2024. Namun, keberlanjutan tren ini bergantung pada bagaimana kita mengelola degradasi lingkungan dan meningkatkan produktivitas per hektar.
Melalui integrasi teknologi terkini—seperti penggunaan drone pertanian dan mekanisasi berbasis geoteknik—UPR berkomitmen untuk menjadikan Kalimantan Tengah sebagai lumbung pangan dunia. Universitas Palangka Raya membuktikan bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya di ruang kuliah, tetapi juga turun ke lumpur sawah untuk memberikan solusi nyata bagi kesejahteraan petani dan ketahanan ekonomi daerah.
Program Cetak Sawah bukan sekadar mencetak lahan, melainkan membangun ekosistem pertanian yang tangguh. Dengan kepemimpinan riset dari Universitas Palangka Raya, tantangan lahan rawa yang kompleks dapat diubah menjadi peluang emas bagi kedaulatan pangan Indonesia. (*/tur)




