BeritaKALTENGNASIONALUtama

Stabilitas Sektor Keuangan Tetap Terjaga Hingga Akhir 2025, OJK Soroti Kinerja Pasar Modal dan Ekonomi Global

JAKARTA, Kalteng.coOtoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global dan prospek perekonomian tahun 2026 yang penuh tantangan. Hal tersebut di sampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang di gelar pada 24 Desember 2025.

Kondisi Ekonomi Global Melandai, Risiko Fiskal Meningkat

OJK mencatat perekonomian global secara umum menunjukkan perbaikan, meskipun lajunya melambat dan masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan pra-pandemi. Aktivitas manufaktur global tetap berada di zona ekspansi, namun mengalami moderasi seiring melemahnya kepercayaan konsumen dunia.

Amerika Serikat menunjukkan kinerja ekonomi yang relatif solid. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh 4,3 persen (saar), di topang konsumsi rumah tangga, penurunan impor, serta peningkatan investasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence). Inflasi AS juga terus melandai, dengan inflasi November 2025 tercatat 2,7 persen dan inflasi inti 2,6 persen.

Sebaliknya, perlambatan ekonomi Tiongkok masih berlanjut. Konsumsi rumah tangga tertahan, PMI manufaktur kembali ke zona kontraksi, dan tekanan sektor properti belum mereda. Kondisi ini mendorong sejumlah bank sentral dunia mengambil kebijakan moneter yang berbeda arah.

The Federal Reserve memangkas Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin pada Desember 2025, di ikuti Bank of England yang menurunkan suku bunga acuannya menjadi 3,75 persen. Sementara itu, Bank of Japan justru menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade akibat tekanan inflasi yang persisten.

Perbedaan kebijakan tersebut memengaruhi pasar keuangan global. Pasar saham dunia menguat merespons pelonggaran moneter AS, meski di iringi kekhawatiran potensi gelembung saham teknologi. Di sisi lain, kenaikan suku bunga Jepang menekan pasar obligasi global akibat berakhirnya praktik carry trade.

Ekonomi Domestik Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global

Di dalam negeri, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang baik. Inflasi inti pada Desember 2025 tercatat meningkat, sektor manufaktur tetap berada di fase ekspansi, dan kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus.

IHSG Cetak Rekor, Likuiditas Pasar Saham Menguat

Sejalan dengan kondisi ekonomi dan sentimen positif global, pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja gemilang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup menguat ke level 8.646,94 pada 31 Desember 2025, naik 22,13 persen secara tahunan (yoy).

Sepanjang 2025, IHSG mencetak rekor All-Time High (ATH) sebanyak 24 kali, dengan level tertinggi 8.710,70 pada 8 Desember 2025. Kapitalisasi pasar saham juga mencapai rekor tertinggi sebesar Rp16.005 triliun.

Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) saham Desember 2025 mencetak ATH sebesar Rp27,19 triliun. Likuiditas pasar saham semakin kuat, di dorong meningkatnya peran investor ritel domestik yang proporsi transaksinya naik menjadi 50 persen sepanjang 2025.

Investor Asing Kembali Masuk, Pasar Obligasi Menguat

Investor asing mencatatkan net buy saham Rp12,24 triliun pada Desember 2025. Di pasar obligasi, indeks komposit ICBI menguat 12,27 persen secara tahunan, dengan yield Surat Berharga Negara (SBN) turun signifikan.

Investor nonresiden juga membukukan net buy SBN senilai Rp6,49 triliun secara bulanan, mencerminkan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi dan pasar keuangan Indonesia.

Reksa Dana, Derivatif, dan Bursa Karbon Tumbuh Positif

Industri pengelolaan investasi mencatat AUM sebesar Rp1.033,81 triliun per akhir 2025, tumbuh 23,46 persen yoy. Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana meningkat 35,26 persen yoy, di dukung net subscription investor yang kuat.

Jumlah investor pasar modal juga melonjak menjadi 20,36 juta, tumbuh hampir 37 persen secara tahunan. Penghimpunan dana di pasar modal sepanjang 2025 mencapai Rp274,80 triliun, melampaui target OJK.

Sementara itu, pasar derivatif keuangan dan Bursa Karbon terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga akhir Desember 2025, total volume transaksi Bursa Karbon mencapai 1,81 juta tCO2e dengan nilai transaksi Rp87 miliar.

Optimisme OJK Hadapi Tahun 2026

OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap solid dalam menghadapi prospek perekonomian tahun 2026, meskipun tantangan global masih membayangi. Sinergi kebijakan, penguatan pasar keuangan, serta meningkatnya partisipasi investor domestik menjadi modal utama menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.(mur)

Related Articles

Back to top button