BeritaFAMILYLife StyleMETROPOLIS

Ingin Karir Melesat? Kuasai 9 Cara Memisahkan Urusan Rumah dari Meja Kerja

KALTENG.CO-Di dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, tidak semua orang mampu datang ke kantor dengan pikiran jernih.

Masalah keluarga, konflik emosional, tekanan finansial, atau luka batin sering kali “ikut masuk” ke ruang kerja. Dampaknya nyata: konsentrasi buyar, keputusan menjadi bias, hingga hubungan profesional yang merenggang.

Namun, menurut sudut pandang psikologi, ada sekelompok orang dengan kemampuan langka. Mereka mampu memisahkan urusan pribadi dari tanggung jawab pekerjaan tanpa harus menjadi sosok yang dingin atau kehilangan empati. Kemampuan ini bukan berarti mereka tidak punya masalah, melainkan mereka memiliki kematangan emosional dan regulasi diri tingkat tinggi.

Dilansir dari Geediting, berikut adalah sembilan kekuatan mental langka yang biasanya dimiliki oleh individu yang mampu menjaga profesionalisme di tengah badai pribadi.


1. Kemampuan Melakukan “Compartmentalization” yang Sehat

Compartmentalization adalah kemampuan otak untuk meletakkan masalah di “kotak” yang berbeda. Saat berada di kantor, mereka menutup kotak masalah pribadi dan fokus sepenuhnya pada kotak pekerjaan. Ini bukan bentuk pelarian, melainkan strategi pertahanan mental agar satu aspek kehidupan tidak merusak aspek lainnya.

2. Kesadaran Diri (Self-Awareness) yang Tajam

Orang-orang ini sangat mengenali pemicu emosi mereka. Mereka tahu kapan perasaan sedih atau marah mulai muncul, dan mereka memiliki kontrol untuk berkata pada diri sendiri: “Saya sedang merasa kesal, tapi perasaan ini tidak ada hubungannya dengan rapat ini.”

3. Regulasi Emosi yang Matang

Mereka tidak membiarkan emosi mengambil alih kemudi. Alih-alih meluapkan kekesalan rumah tangga kepada rekan kerja, mereka mampu menenangkan sistem saraf mereka sendiri melalui teknik pernapasan, jeda sejenak, atau sekadar pengalihan fokus yang positif.

4. Memiliki Batasan (Boundaries) yang Jelas

Kekuatan ini terletak pada ketegasan dalam menetapkan batas. Mereka tahu kapan harus berhenti memikirkan masalah rumah saat menyentuh meja kantor, dan sebaliknya. Batasan ini melindungi energi mental mereka agar tidak terkuras habis (burnout).

5. Fokus pada Solusi, Bukan Drama

Individu dengan kematangan emosional tinggi cenderung pragmatis. Di tempat kerja, mereka melihat tugas sebagai tanggung jawab yang harus diselesaikan. Fokus pada produktivitas memberikan mereka rasa kendali, yang sering kali membantu mengurangi kecemasan akibat masalah pribadi.

6. Empati yang Terarah

Meskipun mereka menjaga jarak antara urusan pribadi dan kerja, mereka tetaplah manusia yang hangat. Namun, mereka memiliki “empati yang terarah”—mereka peduli pada rekan kerja tanpa harus mencampuradukkan beban emosional pribadi ke dalam interaksi tersebut.

7. Kemampuan Mengelola Stres (Resiliensi)

Mereka melihat tekanan bukan sebagai beban permanen, melainkan tantangan yang bisa dikelola. Ketahanan mental (resiliensi) ini memungkinkan mereka untuk tetap berfungsi secara optimal meskipun sedang menghadapi masa sulit di luar kantor.

8. Integritas Profesional yang Tinggi

Bagi mereka, pekerjaan adalah komitmen. Mereka memiliki standar moral yang kuat untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan atau klien, terlepas dari apa pun suasana hati mereka saat itu.

9. Mengetahui Kapan Harus Meminta Bantuan

Kekuatan terakhir yang paling jarang disadari adalah keberanian untuk mengakui keterbatasan. Jika masalah pribadi benar-benar terlalu berat, mereka tidak akan memaksakan diri hingga hancur. Mereka tahu kapan harus mengambil cuti atau berbicara dengan profesional agar kinerja mereka tidak merugikan orang lain.


Memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan adalah sebuah keterampilan (skill), bukan bakat lahir. Dengan melatih regulasi diri dan menetapkan batasan yang sehat, siapa pun bisa tetap bersinar secara profesional tanpa harus mengabaikan kesehatan mental mereka. (*/tur)

Related Articles

Back to top button