Sering Dimanfaatkan Orang? Mungkin Karena Kamu Terlalu Baik Hati

KALTENG.CO-Kebaikan hati sering kali dianggap sebagai “mata uang” terbaik dalam interaksi sosial. Banyak orang percaya bahwa dengan selalu bersikap ramah, mengalah demi kepentingan orang lain, dan menjadi sosok yang selalu membantu, hidup akan berjalan lebih harmonis.
Namun, benarkah demikian? Dalam perspektif psikologi, kebaikan yang tidak memiliki batasan (boundary) justru bisa menjadi bumerang. Ada garis tipis antara menjadi orang yang baik dan menjadi orang yang “terlalu baik” hingga merugikan diri sendiri.
Dilansir dari laman Global English Editing, Sabtu (7/2/2026), terdapat tujuh situasi spesifik di mana sikap terlalu baik hati justru dapat menghambat pertumbuhan pribadi dan kesehatan mental Anda.
1. Saat Anda Menjadi Target Manipulasi
Orang-orang dengan kecenderungan manipulatif memiliki “radar” tajam untuk menemukan individu yang sulit berkata tidak. Jika Anda selalu bersikap terlalu baik, manipulator akan melihat Anda sebagai sasaran empuk untuk memenuhi kepentingan mereka tanpa memberikan timbal balik. Dalam situasi ini, kebaikan Anda bukan lagi bentuk kebajikan, melainkan celah bagi orang lain untuk mengambil keuntungan.
2. Ketika Anda Kehilangan Kendali atas Waktu Sendiri
Pernahkah Anda merasa jadwal harian Anda penuh bukan karena urusan pribadi, melainkan karena membantu urusan orang lain? Psikologi menyebutkan bahwa terlalu sering mengiyakan permintaan bantuan dapat membuat Anda kehilangan kendali atas hidup sendiri. Saat Anda terlalu baik dalam hal waktu, prioritas pribadi Anda akan selalu menempati urutan terakhir.
3. Saat Kebaikan Menghambat Kejujuran (Toxic Niceness)
Terkadang, saking inginnya menjaga perasaan orang lain, kita memilih untuk tidak memberikan kritik atau masukan yang jujur. Padahal, kejujuran yang pahit sering kali lebih dibutuhkan daripada kebohongan yang manis. Menjadi terlalu baik dalam situasi ini justru menghambat pertumbuhan orang tersebut dan merusak integritas hubungan Anda.
4. Munculnya Perasaan Dendam yang Terpendam
Salah satu bahaya psikologis dari menjadi terlalu baik adalah penumpukan emosi negatif. Ketika Anda terus-menerus mengalah, akan ada titik di mana Anda merasa tidak dihargai atau “dikorbankan”. Rasa lelah ini bisa berubah menjadi kebencian atau dendam terpendam yang sewaktu-waktu dapat meledak dan merusak kesehatan mental Anda sendiri.
5. Anda Menarik Orang-Orang yang “Beracun” (Energy Vampire)
Orang-orang yang hanya ingin mengambil tanpa memberi (taker) sangat menyukai individu yang terlalu baik. Jika Anda tidak menetapkan batasan, Anda akan dikelilingi oleh “vampir energi” yang terus-menerus menuntut perhatian, bantuan, dan dukungan emosional tanpa peduli pada kondisi Anda.
6. Standar Diri Anda Menjadi Kabur
Menjadi terlalu baik sering kali berakar dari keinginan untuk disukai semua orang (people pleasing). Hal ini bisa membuat Anda kehilangan jati diri. Anda mulai melakukan hal-hal bukan karena nilai-nilai yang Anda yakini, melainkan karena ingin memenuhi ekspektasi orang lain agar dianggap sebagai “orang baik”.
7. Saat Kebaikan Menimbulkan Ketidakseimbangan Kekuasaan
Dalam hubungan (baik asmara maupun profesional), kebaikan yang berlebihan dapat menciptakan dinamika kekuasaan yang tidak sehat. Orang lain mungkin mulai memandang Anda sebagai sosok yang “lemah” atau tidak memiliki prinsip, sehingga rasa hormat mereka terhadap Anda justru berkurang.
Psikologi tidak melarang kita untuk menjadi orang baik. Namun, kebaikan yang sehat harus dibarengi dengan ketegasan (assertiveness). Memiliki kemampuan untuk berkata “tidak” tanpa rasa bersalah adalah bentuk tertinggi dari mencintai diri sendiri.
Ingatlah bahwa Anda tidak bisa menuangkan air dari gelas yang kosong. Menjaga kesejahteraan diri sendiri bukan berarti egois, melainkan syarat utama agar Anda bisa terus berbuat baik secara berkelanjutan dan tulus. (*/tur)



