
MINAHASA UTARA, Kalteng.co-Sejarah baru tercipta dalam dunia jurnalisme lingkungan Indonesia. Untuk pertama kalinya, perhelatan akbar Green Press Community (GPC) diselenggarakan di luar Pulau Jawa. Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, terpilih menjadi tuan rumah agenda strategis yang mempertemukan ratusan jurnalis dan pemangku kepentingan lingkungan pada Sabtu (07/02/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia ini mengusung tema krusial: “Jurnalisme Melindungi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil”.
Tonggak Penting Kesadaran Ekologi Sulawesi Utara
Pemilihan Sulawesi Utara sebagai lokasi GPC 2026 bukan tanpa alasan. Provinsi ini merupakan wilayah kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari pesisir. Pertemuan ini diharapkan menjadi pemantik perspektif baru bagi masyarakat dan pemerintah daerah tentang pentingnya menjaga ekosistem laut.
Ketua SIEJ Daerah Sulawesi Utara, Finda Muhtar, menyambut hangat kehadiran pengurus SIEJ dari 26 provinsi. Ia mengenang perjalanan panjang SIEJ Sulut yang telah berdiri sejak Juli 2014 dengan fokus pada dampak pembangunan darat terhadap wilayah laut.
“Kami berharap pemerintah daerah dapat benar-benar berpihak pada lingkungan dan memastikan pembangunan yang berkelanjutan. Kebijakan jangan sampai diambil secara gegabah,” tegas Finda.
Kolaborasi Lintas Sektor Hadapi Ancaman Ekologis
Ketua Umum SIEJ, Joni Aswira, menyatakan kekagumannya atas antusiasme peserta yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, jurnalis, pegiat lingkungan (LSM), hingga siswa sekolah.
Menurut Joni, GPC hadir sebagai wadah kolaborasi karena isu penyelamatan bumi tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ia menyoroti ancaman nyata krisis ekologis yang terjadi di depan mata, seperti bencana alam akibat perubahan iklim dan ancaman krisis pangan.
“Ancaman-ancaman itu nyata di berbagai daerah. Bencana ekologis bukan lagi sekadar isu, dan kami yakin banyak didalangi ulah manusia itu sendiri. Hadirnya GPC adalah bentuk kolaborasi mencari solusi bersama,” ujar Joni.
Komitmen Minahasa Utara: Melindungi 40 Pulau Kecil
Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, yang turut hadir sebagai pemateri, mengakui bahwa pembangunan sering kali bergesekan dengan kelestarian alam. Namun, ia menekankan pentingnya mengelola kekayaan bumi secara bijak.
“Di sekitar kita banyak pulau yang hilang, bahkan sengaja dihilangkan. Minahasa Utara sendiri memiliki 40 pulau kecil yang membutuhkan upaya ekstra untuk dijaga,” ungkap Joune. Ia meyakini bahwa kekuatan jurnalisme adalah salah satu kunci utama dalam melakukan perbaikan ekologi di masa depan.
Kemeriahan Budaya dan Dukungan Global
Pembukaan GPC 2026 berlangsung semarak dengan penampilan Tarian Tetengkoren dari Sanggar Trisan Kinaskas Tomohon, yang memberikan sentuhan budaya lokal yang kental.
Kesuksesan perhelatan ini juga didukung penuh oleh koalisi organisasi lingkungan nasional dan internasional, di antaranya:
NGO Nasional: Satya Bumi, Greenpeace, Celios, Trend Asia, KIARA, Yayasan Masarang.
Lembaga Internasional: Climateworks, Pulitzer Centre, IMS, GBPN, IDJN, dan ICCAs.
Hajatan GPC 2026 di Minahasa Utara ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi strategis bagi jurnalisme lingkungan di Indonesia, khususnya dalam upaya perlindungan pesisir dan pulau-pulau kecil dari ancaman eksploitasi dan dampak perubahan iklim. (*/tur)



