Meta Sempat Patenkan AI untuk Kloning Digital Orang yang Sudah Meninggal: Bisa Balas DM dan Komentar!

KALTENG.CO-Perdebatan mengenai nasib jejak digital seseorang setelah meninggal dunia memasuki babak baru yang cukup mengejutkan.
Jika sebelumnya kita hanya mengenal opsi menghapus akun atau menjadikannya “Memorialized” (kenangan), kini raksasa teknologi Meta—induk perusahaan Facebook dan Instagram—diketahui sempat melirik potensi Kecerdasan Buatan (AI) untuk menjaga akun tersebut tetap “hidup”.
Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Apakah kita siap berinteraksi dengan “kloning digital” dari orang tercinta yang sudah tiada?
AI yang Mampu Meniru Gaya Bahasa dan Interaksi Pengguna
Berdasarkan laporan Business Insider, Meta telah mengantongi paten yang memungkinkan Large Language Model (LLM) untuk mensimulasikan aktivitas pengguna. Teknologi ini bukan sekadar bot biasa; AI dilatih menggunakan data historis pengguna, mulai dari:
Gaya bahasa dalam unggahan (caption dan status).
Pola komentar yang sering diberikan.
Interaksi spesifik dengan teman atau keluarga di media sosial.
Dalam dokumen paten tersebut, dijelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk mensimulasikan pengguna saat mereka tidak hadir, baik karena jeda panjang maupun jika pengguna telah meninggal dunia.
Kloning Digital yang Bisa ‘Balas DM’
Nama Andrew Bosworth, Chief Technology Officer Meta, tercantum sebagai penulis utama dokumen ini. Jika diimplementasikan, AI ini secara teori bisa melakukan tindakan layaknya pemilik akun asli, seperti:
Menyukai postingan teman.
Membalas komentar dengan gaya bicara yang identik.
Mengirim Pesan Langsung (DM) seolah-olah sang pemilik akun masih aktif secara fisik.
Alasan Meta Memutuskan Tidak Melanjutkan Proyek Ini
Meski teknologi ini terdengar seperti cuplikan serial Black Mirror, Meta menegaskan bahwa mereka tidak berencana untuk merealisasikannya dalam waktu dekat. Ada beberapa alasan kuat di balik keputusan tersebut:
Masalah Otentikasi: Saat ini, platform Meta tengah dibanjiri keluhan soal konten “AI Slop” atau konten buatan mesin yang dianggap tidak otentik dan mengganggu pengalaman pengguna.
Dampak Psikologis: Mark Zuckerberg sendiri mengakui dalam wawancara dengan Lex Fridman bahwa berinteraksi dengan avatar orang yang sudah meninggal bisa menjadi “tidak sehat” bagi proses berduka seseorang.
Etika dan Privasi: Menggunakan data orang yang sudah meninggal untuk melatih AI memicu perdebatan hukum mengenai hak cipta kepribadian dan persetujuan (consent).
Catatan Penting: Walaupun Meta mundur, keberadaan paten ini menunjukkan betapa jauh perusahaan teknologi bersedia mengeksplorasi batas antara kehidupan nyata dan dunia digital.
Tren ‘Grief Tech’: Bisnis Menghidupkan Kenangan
Meta bukanlah satu-satunya yang melihat peluang ini. Muncul tren bernama Grief Tech, di mana berbagai startup menawarkan layanan untuk melatih AI menggunakan rekaman suara, foto, dan video orang yang telah meninggal.
Tujuannya adalah menciptakan asisten virtual atau chatbot yang memungkinkan keluarga yang ditinggalkan tetap bisa “berkomunikasi” demi mengobati rasa rindu. Namun, para ahli psikologi mengingatkan bahwa teknologi ini bisa menjadi pedang bermata dua yang justru menghambat seseorang untuk merelakan kehilangan.
Warisan Digital vs. Realita
Keberadaan paten Meta ini membuktikan bahwa identitas digital kita mungkin akan bertahan lebih lama dari keberadaan fisik kita di dunia. Meskipun Meta memutuskan untuk tidak melanjutkan fitur ini sekarang, diskusi mengenai etika kematian digital akan terus menjadi topik hangat di masa depan.
Bagaimanapun, setiap individu berhak memiliki kendali atas bagaimana mereka ingin diingat di dunia maya, tanpa harus dipaksa menjadi algoritma yang terus berjalan selamanya. (*/tur)



