Batu Bara Terancam Transisi Energi? Strategi Terbaru BUMA dan Adaro Ini Justru Buktikan Sebaliknya!

KALTENG.CO-Industri batu bara nasional saat ini berada di persimpangan jalan yang dinamis. Di satu sisi, kebutuhan energi domestik masih sangat tinggi, namun di sisi lain, tekanan transisi energi menuju energi terbarukan kian menguat.
Menghadapi tantangan tersebut, kepastian operasional menjadi kunci bagi para pemain besar di sektor jasa pertambangan.
Langkah strategis baru saja diambil oleh PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), anak usaha utama dari PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID). Perusahaan resmi mengumumkan perpanjangan kontrak kerja sama operasional dengan PT Adaro Indonesia.
Detail Kontrak BUMA dan Adaro (2026-2030)
Perpanjangan kontrak ini tidak hanya sekadar formalitas, melainkan bentuk kepercayaan jangka panjang. Kerja sama ini dijadwalkan mulai berlaku pada 1 April 2026 hingga 31 Desember 2030.
Fokus operasional akan dipusatkan di Tambang Tutupan Selatan, Tanjung Tabalong, Kalimantan Selatan. Berikut adalah proyeksi target volume kerja selama periode hampir lima tahun tersebut:
Pengupasan Lapisan Tanah (Overburden Removal): Sekitar 239 juta bank cubic meter (bcm).
Produksi Batu Bara: Ditargetkan mencapai 44 juta ton.
Rata-rata Tahunan: Volume tahunan diperkirakan mencapai 50,5 juta bcm untuk overburden dan 9,3 juta ton batu bara.
Signifikansi Bisnis bagi DOID dan BUMA
Bagi emiten jasa pertambangan seperti DOID, kontrak jangka panjang adalah “napas” bagi arus kas perusahaan. Di tengah fluktuasi harga komoditas global, kontrak ini memberikan visibilitas pendapatan yang jelas hingga akhir dekade ini.
Tambang Tutupan sendiri merupakan aset krusial bagi Adaro di Kalimantan Selatan. Keberlanjutan operasional di wilayah ini membuktikan bahwa permintaan batu bara—baik untuk kebutuhan pembangkit listrik domestik maupun pasar ekspor—masih sangat solid dalam jangka menengah.
“Kontrak ini mencerminkan konsistensi kinerja operasional BUMA, serta kapabilitas kami dalam mengelola operasi pertambangan yang kompleks secara teknis,” ujar Ronald Sutardja, Direktur Utama BUMA.
Tantangan Transisi Energi dan Efisiensi Operasional
Meskipun kontrak jangka panjang telah diamankan, sektor pertambangan tidak bisa menutup mata dari agenda dekarbonisasi nasional. Pemerintah terus mendorong bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) dan penurunan emisi karbon.
Untuk tetap relevan, kontraktor tambang seperti BUMA kini berfokus pada tiga pilar utama:
Efisiensi Operasional: Menggunakan teknologi terkini untuk menekan biaya dan emisi.
Standar Keselamatan: Menjaga keandalan tinggi di area tambang dengan kompleksitas teknis besar.
Praktik Lingkungan & Sosial: Selain aspek bisnis, BUMA berkomitmen menjalankan program pemberdayaan masyarakat di Tabalong, mulai dari pendidikan, pelatihan keterampilan, hingga dukungan UMKM.
Perpanjangan kontrak antara BUMA dan Adaro hingga tahun 2030 menegaskan posisi BUMA sebagai mitra jasa pertambangan tepercaya di Indonesia.
Di tengah arus transisi energi, kepastian volume kerja ini menjadi fondasi kuat bagi perusahaan untuk terus berkontribusi pada ketahanan energi nasional sembari beradaptasi dengan standar lingkungan yang lebih ketat. (*/tur)




