Konflik Iran-AS Memanas! Harga Minyak Dunia Terancam Tembus USD 100 per Barel

KALTENG.CO-Eskalasi ketegangan militer di Timur Tengah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) kini berada pada titik yang mengkhawatirkan.
Salah satu dampak paling nyata yang membayangi ekonomi global adalah ancaman penutupan Selat Hormuz, yang diprediksi akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menyentuh angka psikologis USD 100 per barel.
Ekonom Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, memberikan peringatan keras mengenai dampak domino dari konflik ini. Menurutnya, pergerakan harga minyak sudah mulai menunjukkan tren mendaki sejak serangan pertama pecah.
Selat Hormuz: Urat Nadi Energi Global yang Terancam
Kenaikan harga minyak bukan lagi sekadar prediksi, melainkan realitas yang mulai terjadi. Fahmy menjelaskan bahwa dinamika pasar merespons cepat setiap letupan konflik di kawasan tersebut.
“Serangan pertama ke Iran itu sudah menaikkan harganya sampai USD 67 per barel. Kemudian naik lagi menjadi USD 70, dan jika penutupan (jalur distribusi) terjadi, harga akan dengan mudah mencapai kisaran USD 80-an,” ujar Fahmy saat dihubungi pada Senin (2/3/2026).
Mengapa kawasan ini begitu krusial? Berikut adalah alasannya:
Pusat Produksi: Timur Tengah merupakan lumbung energi terbesar dunia.
Jalur Distribusi Utama: Selat Hormuz adalah jalur pengiriman minyak dan gas paling strategis di bumi.
Keseimbangan Supply-Demand: Gangguan pada jalur ini otomatis akan memangkas pasokan global secara drastis.
Skenario Terburuk: Minyak USD 100 per Barel
Fahmy menambahkan bahwa ketidakseimbangan antara supply (pasokan) dan demand (permintaan) akan menjadi pemicu utama meroketnya harga. Jika perang meluas dan jalur ekspor-impor komoditas di Selat Hormuz lumpuh dalam waktu lama, dunia harus bersiap menghadapi krisis energi.
“Jika perang meluas, pergerakan harga bisa mencapai USD 100 per barel. Penutupan Selat Hormuz dalam waktu yang lama akan menjadi faktor penentu kenaikan harga yang sangat signifikan tersebut,” tegas Fahmy.
Penutupan jalur ini tidak hanya menghambat aliran minyak, tetapi juga gas dan berbagai komoditas penting lainnya, yang pada akhirnya akan membebani biaya logistik global dan memicu inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dampak Langsung terhadap Ekonomi Dunia
Dampak langsung dari peperangan di pusat energi global hampir pasti akan mendorong harga minyak melonjak dalam jumlah yang cukup besar. Situasi ini menuntut kewaspadaan dari negara-negara pengimpor energi (net importer) untuk segera menyiapkan langkah mitigasi anggaran subsidi energi.
Ringkasan Prediksi Kenaikan Harga Minyak
Mengingat posisi Selat Hormuz yang sangat vital bagi lalu lintas ekspor-impor energi dunia, stabilitas di kawasan ini menjadi kunci utama untuk mencegah guncangan ekonomi global yang lebih parah. (*/tur)




