BeritaUtama

Vaksinisasi Dorong Optimisme Daya Beli Masyarakat

JAKARTA – Pelaku usaha ritel optimistis pertumbuhan bisnis ritel tahun depan lebih baik. Dengan disiplin protokol kesehatan dan strategi penjualan omnichannel, peritel mematok target pertumbuhan 4 sampai 4,5 persen pada 2021. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menyatakan bahwa program vaksinasi turut mendorong optimisme daya beli masyarakat untuk segera pulih. Aprindo berharap sentimen positif yang telah terjadi dalam beberapa waktu terakhir mampu mendukung pertumbuhan ritel. Meski demikian, dia mengakui kondisinya masih belum pulih seperti sebelum pandemi Covid-19.

”Tinggal mengukur dan melihat bagaimana vaksin diselenggarakan sehingga penanggulangan Covid-19 dapat cepat dan masyarakat dapat kembali sehat dan aktif,” ujarnya Jumat (25/12).

Roy berharap ekosistem perdagangan secara daring bisa semakin baik. Yakni, adanya kolaborasi semua pihak, baik antar pelaku usaha maupun kementerian/lembaga terkait di dalam negeri. Menurut Roy, kolaborasi yang dilakukan seharusnya tidak dijalankan dengan eksklusif. Sebab, kolaborasi lintas pemangku kepentingan terkait diyakini mampu meningkatkan iklim perdagangan dalam negeri dan dapat memasuki peta perdagangan internasional.

”Tidak ada yang dapat berjalan sendiri dengan kemampuan sendiri untuk berlaga di era kompetisi saat ini. Kolaborasi dan sinergisitas menjadi kata kunci, baik antar pelaku usaha maupun kementerian/lembaga terkait,” ujarnya.

Alphonzus Widjaja, ketua umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), menilai jumlah kasus Covid 19 terus meningkat akibat penegakan yang lemah terhadap penerapan ataupun pemberlakuan protokol kesehatan. Karena itu, dia menegaskan apa yang harus dilakukan saat ini adalah memastikan bahwa protokol dilaksanakan dengan ketat, disiplin, dan konsisten.

”Penambahan pembatasan tidak akan efektif dan bahkan akan menjadi sia-sia karena penegakan terhadap protokol kesehatan yang masih sangat lemah,” ujarnya.Menurut Alphonzus, dengan diperketatnya aturan pembatasan seperti rencana pemerintah saat ini, sektor usaha restoran adalah yang akan paling terdampak. Sebab, mereka kehilangan pelanggan di jam makan malam. Karena itu, dia memprediksi sektor usaha restoran relatif hanya mendapat penjualan dari makan siang sehingga tingkat penjualan akan tersisa maksimal 25 persen.

Koordinator Wilayah Timur I Aprindo April Wahyu Widati menyatakan, pada kuartal keempat tahun ini, kondisi masih belum baik. Sebab, masyarakat masih selektif dalam berbelanja. Itu juga merupakan dampak berkepanjangan dari imbas pandemi sehingga sebagian masyarakat Jatim kehilangan pendapatan. Akibatnya, daya beli masyarakat menurun.

”Harapan kami, kondisi itu akan mengalami perubahan pada tahun depan. Penerapan vaksin Covid-19 membuat harapan baru bagi perekonomian agar roda ekonomi bisa berjalan lebih baik,” ucapnya kemarin (25/12).Terkait dengan prediksi tahun depan, pihaknya belum bisa memastikan. Yang pasti, retailer harus tetap optimistis. ”Segala peluang yang ada harus dicermati agar omzet bisa kembali baik dan keberlangsungan bisnis bisa berlanjut dan sehat kembali,” tuturnya. Sementara itu, terkait berbagai kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah menyangkut pandemi, peritel tetap mendukung.

”Kalaupun nanti ada penerapan pembatasan sosial berskala besar, jangan sampai ada pembatasan jam operasional toko. Karena sejauh ini, toko yang merupakan anggota Aprindo tetap patuh dengan pelaksanaan protokoler Covid-19,” tandasnya. (agf/res/c12/dio)

Related Articles

Back to top button