Ekonomi Bisnis

Ekspor Perhiasan di Kalteng Naik Tajam

PALANGKA RAYA – Selama Oktober 2020, komoditas utama ekspor Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng)  adalah batu bara pada kelompok bahan bakar mineral, emas pada kelompok perhiasan atau permata, minyak kelapa sawit pada kelompok lemak dan minyak hewani/nabati, serta kayu dan barang dari kayu.

“Ekspor bahan bakar mineral naik 6,10 persen, dari US$50,86 juta di September 2020 menjadi US$53,96 juta di Oktober 2020. Ekspor perhiasan atau permata mengalami kenaikan tajam yaitu sebesar 282,98 persen, dari US$8,93 juta di September 2020 menjadi US$34,20 juta di Oktober 2020,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalteng Eko Marsoro, baru-baru ini.

Menurut dia, ekspor lemak dan minyak hewani/nabati mengalami sedikit penurunan sebesar 4,21 persen, dari US$26,14 juta (September 2020) menjadi US$25,04 juta (Oktober 2020). Ekspor kayu dan barang dari kayu juga turun 36,80 persen, dari US$13,76 juta (September 2020) menjadi US$8,69 juta (Oktober 2020).

“Dibandingkan dengan kondisi Oktober 2019, nilai ekspor Oktober 2020 lebih tinggi, yaitu naik sebesar 7,92 persen. Peningkatan nilai ekspor hampir terjadi pada kelompok komoditas perhiasan/permata, kayu dan barang dari kayu, berbagai produk kimia, ampas/sisa industri makanan, serta garam, belerang, kapur,” terangnya.

“Perhiasan atau permata merupakan komoditas yang paling dominan mempengaruhi kenaikan nilai ekspor Kalteng dengan kenaikan nilai sebesar US$34,20 juta,” tegasnya.  

Lanjut dia, secara kumulatif, Januari-Oktober 2020 ekspor masih didominasi oleh komoditas bahan bakar mineral berupa batu bara dengan nilai sebesar US$814,37 juta atau berkontribusi sebesar 54,93 persen dari total ekspor. Lemak dan minyak hewani/nabati, bijih, kerak dan abu logam, serta perhiasan/permata juga menjadi komoditas unggulan ekspor Kalteng. Ketiga komoditas tersebut berkontribusi 31,85 persen dari total ekspor selama Januari-Oktober 2020.

Sementara komoditas impor utama selama Oktober 2020 adalah bahan bakar mineral berupa aspal (US$1,83 juta), pupuk (US$0,68 juta), mesin/peralatan listrik (US$0,58 juta), dan mesin/pesawat mekanik (US$0,32 juta).

“Terjadi penurunan yang signifikan pada impor mesin pesawat mekanik berupa mesin industri minyak kelapa sawit sebesar 92,33 persen. Impor berbagai produk kimia berupa katalisator masih mengalami peningkatan sebesar 5,26 persen dibanding bulan sebelumnya,” ungkapnya.

Sementara itu, secara kumulatif impor seluruh komoditas selama Januari-Oktober 2020 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, kecuali mesin/peralatan listrik berupa generator pembangkit listrik yang mengalami kenaikan 143,42 persen dan bijih, kerak, dan abu logam berupa skimming zinc yang mengalami kemaikan sebesar 8,93 persen.

“Kebutuhan impor masih didominasi kelompok komoditas bahan bakar mineral senilai US$11,98 juta atau 42,33 persen dari total impor. Impor mesin pesawat mekanik menempati urutan kedua dengan nilai kumulatif US$9,20 juta dan berkontribusi 32,51 persen terhadap total impor,” tandasnya. (aza)

Related Articles

Back to top button