Crazy Rich; Julukan Pewaris Gurita Bisnis di Asia, menjadi Status OKB di Indonesia

Tren Global
Upaya untuk meraih kekayaan dengan berpura-pura kaya di media sosial ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di New York, seorang perempuan muda usia awal 20-an yang baru datang dari Jerman, Anna Sorokin, bisa mengelabui banyak orang terpandang dan berpengaruh, dari sosialita hingga pengacara.
Anna memanfaatkan Instagram untuk membangun citra dan membuat orang percaya bahwa ia adalah Anna Delvey, seorang keturunan bangsawan Eropa. Tahun 2019 Anna dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan dihukum penjara. Kisah Anna sekarang hadir dalam serial Netflix berjudul Inventing Anna.
Demikian juga cerita dalam dokumenter The Tinder Swindler. Seorang pemuda Israel, Simon Leviev, mengaku sebagai pemilik bisnis berlian di aplikasi pencari jodoh, Tinder. Ia memasang foto bepergian dengan pesawat pribadi, ia selalu menggunakan pakaian mewah.
Setiap kali mendekati perempuan yang diincar, ia akan mengajak bertemu di restoran mewah. Ternyata itu semua adalah modus untuk mengincar uang si perempuan, termasuk memaksa si perempuan untuk mengambil pinjaman di bank. Ketika dua korban akhirnya melaporkan kasusnya ke polisi dan bersuara di media, korban-korban lain di berbagai negara pun bermunculan.
Apa yang bisa disimpulkan dari ini semua? Pertama, media sosial adalah jalan pintas untuk mobilitas sosial. Kedua, media massa hanyalah mesin fabrikasi narasi yang turut memanipulasi. Ketiga, sudah waktunya kita kembali ke pepatah Jawa: ojo gumunan, ojo kagetan, ojo dumeh. (Dikutip dari JawaPos.com/tur)
—
OKKY MADASARI, Novelis, kandidat PhD National University of Singapore



