BeritaKESEHATANOPINI

Tak Sekadar Bumbu Dapur, Laos Juga Berkhasiat Mengatasi Berbagai Penyakit

LAOS menjadi salah satu bumbu dapur utama pada masakan Indonesia. Misalnya, pada ayam ungkap bumbu laos dan tempe goreng bumbu laos. Seperti empon-empon pada umumnya, laos yang punya nama lain lengkuas merupakan herbal yang memiliki manfaat bagi kesehatan. Penelitian membuktikan, selain untuk mengobati infeksi jamur, laos berkhasiat sebagai antikanker, anti-TB, hingga antikuman.

Laos memiliki bau dan rasa yang khas karena mengandung minyak atsiri pada daun, batang, rimpang, dan akar. Komponen utamanya adalah seskuiterpen dan monoterpen. Senyawa kimia kandungan lain yang mendukung keunikan laos, utamanya terpenoid, fenolik, diarylheptanoid, dan flavonoid, dengan jumlah total lebih kurang 89 senyawa.

Seperti empon-empon lain, khasiat laos banyak dikenal untuk kesehatan. Laos biasanya dikombinasikan dengan empon-empon lain pada berbagai minuman jamu yang terkenal. Misalnya, jamu kudu laos. Laos juga dikenal luas untuk mengobati panu, yaitu infeksi jamur pada kulit.

https://kalteng.cohttps://kalteng.cohttps://kalteng.cohttps://kalteng.co

Pada filosofi sistem pengobatan tradisional Tiongkok, rimpang laos bersifat menghangatkan, membuang dingin, menggerakkan qi (energi vital), dan memperkuat yang. Penggunaannya, antara lain, mengatasi gangguan lambung, mual, diare, acid reflux (asam lambung mengalir kembali ke bagian atas saluran cerna), nyeri otot dan rematik, kehilangan nafsu makan, muntah, serta mengatasi batuk kering.

Pada pengobatan India Ayurveda, laos digunakan untuk gangguan pada usus, nyeri tenggorokan, gangguan ereksi, demam, penyegar mulut, dan melancarkan buang air kecil. Pada pengobatan di Malaysia, laos dimanfaatkan untuk mengatasi nyeri lambung dan perawatan sehabis melahirkan.

Studi ilmiah menunjukkan khasiat, antara lain, antibakteri, antijamur, antivirus, dan antiprotozoal. Serta, menguatkan sistem imun, antioksidan, antidiabetik, menurunkan kadar lemak, antiradang, dan antitumor. Biasanya studi dilakukan terhadap ekstrak kasar atau sebuah senyawa utama, misalnya trans ethyl p-methoxycinnamate.

Bernama ilmiah Alpinia galanga dari suku Zingiberaceae, tanaman itu populer dengan sebutan galangal dalam bahasa Inggris. Nama lain dalam bahasa Indonesia adalah lengkuas, sebutan yang sama bagi penduduk Malaysia. Daerah asal adalah Asia Tenggara dan budi daya pernah dilakukan secara masif di Pulau Jawa untuk perdagangan.

Laos Sebagai Antikuman, Anti-TB, dan Antijamur

Khasiat minyak atsiri dan berbagai ekstrak rimpang laos sudah banyak dipelajari sebagai antikuman dan antijamur. Jenis bakteri yang dapat dihambat cukup bervariasi, termasuk kuman yang biasa menginfeksi saluran cerna. Karena itu, secara turun-temurun laos memang sudah dipakai untuk membantu mengatasi masalah pada usus dan lambung.

Uji ekstrak laos terhadap bakteri tuberkulosis (TB) juga menghasilkan temuan menarik. Studi kimia menunjukkan aktivitas kandungan 4 1’S’-1’- acetoxychavicol acetate terhadap bakteri TB. Dan, ini adalah harapan untuk mendapatkan obat antituberkulosis baru. Obat TB baru sangat diperlukan untuk mengatasi resistensi bakteri pada pemakaian obat yang ada. Hasil studi itu meyakinkan efektivitas laos sebagai obat TB bila digunakan secara teratur bersama kombinasi obat dokter.

Uji khasiat laos sebagai antijamur yang memang sudah dipakai secara turun-temurun juga menarik perhatian. Uji dilakukan pada berbagai macam ekstrak, yang juga sudah dipelajari perbedaan kerjanya pada berbagai macam jamur. Hasil studi in vitro membuktikan khasiat itu terkait erat dengan kandungan senyawa golongan fenolik dan flavonoid yang bekerja sebagai pembasmi radikal bebas (molekul kimia perusak sel tubuh).

Laos Sebagai Antiradang dan Antinyeri

Laos dipakai pada pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai rasa nyeri. Termasuk nyeri lambung, gigi, persendian, dan otot. Itu diduga karena khasiat senyawa kandungan yang menghambat agen penyebab radang. Untuk nyeri persendian, riset mengindikasikan kerja senyawa p-hydroxycinnamaldehyde terhadap chondrocytes manusia, yaitu sel pada tulang rawan. Kalau kesehatan tulang rawan terjaga, nyeri persendian yang terjadi pada usia lanjut dapat dikendalikan.

Laos Sebagai Antioksidan dan Antikanker

Aktivitas antioksidan berbagai ekstrak rimpang laos sudah diperiksa. Memang terbukti ada aktivitas, dengan ekstrak kloroform menunjukkan aktivitas tersebut terkuat. Minyak atsiri laos juga punya khasiat antioksidan. Ini kabar baik mengingat kebutuhan antioksidan alamiah makin meningkat untuk melawan kerusakan sel akibat radikal bebas penyebab stres oksidatif. Stres oksidatif adalah keadaan tidak seimbang antara antioksidan dan radikal bebas di dalam tubuh manusia sehingga kerusakan sel tubuh tidak terkendali.

Sementara itu, kerusakan sel adalah kunci utama terjadinya sel kanker. Karena itu, peneliti Mesir dalam ulasannya pada 2020 menyatakan perlunya pengendalian stres oksidatif sebagai cara mencegah terbentuknya sel kanker. Uji antikanker dari ekstrak laos juga sudah dilakukan pada berbagai kultur sel, termasuk sel liver dan payudara. Hasil uji itu mencoba menganalisis zat kandungan apa saja yang berperan sebagai antikanker.

Memanfaatkan Laos

Pemakaian:

– Digunakan bersama empon-empon lain pada berbagai ramuan jamu.

– Minuman untuk nyeri tenggorokan, batuk, demam, dan kram otot.

Siapkan rimpang laos segar berukuran 6–10 cm, cuci, kupas, dan iris tipis.

Rebuslah dalam 500 ml air hingga mendidih. Kecilkan api dan lanjutkan pemanasan 15 menit.

Saring, setelah hangat bisa ditambahkan madu, siap diminum 250 ml.

Catatan:

– Secara tradisional rimpang laos dimanfaatkan dengan cara direbus, kemudian diminum atau ditumbuk untuk pemakaian luar.

– Rekomendasi dosis pemakaian belum dipastikan dan informasi kemungkinan efek samping pun belum tersedia.

– Saran penggunaan dapat mengikuti resep asli keluarga dan berbagai buku resmi terbitan pemerintah Indonesia.

– Gunakan laos secara teratur untuk menikmati manfaatnya.

Dari berbagai sumber

*) Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, Guru besar botani farmasi dan farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Kanal Kesehatan Prof Mangestuti. (*/tur)

Related Articles

Back to top button