Nostalgia Sebelum Live Action: 5 Centimeters Per Second Kembali Tayang di Bioskop Indonesia 16 Januari 2026!
KALTENG.CO-Sulit untuk menyangkal bahwa 5 Centimeters Per Second adalah salah satu anime movie terbaik sepanjang masa. Sejak dirilis pertama kali pada tahun 2007, karya sutradara legendaris Makoto Shinkai ini seolah tidak pernah pudar pesonanya.
Film ini tetap menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan penggemar animasi Jepang hingga detik ini, berkat narasi emosional yang dibalut visual estetik yang memanjakan mata.
Kabar gembira bagi penggemar di Indonesia, film ini dijadwalkan kembali tayang di layar lebar pada 16 Januari 2026 mendatang. Penayangan ulang ini seolah menjadi momen refreshing bagi memori kolektif penonton sebelum menyambut versi film live action yang direncanakan rilis pada Oktober 2026.
Sinopsis: Kisah Tiga Babak tentang Jarak dan Waktu
5 Centimeters Per Second adalah sebuah drama romantis yang dibagi dalam tiga babak kronologis. Ceritanya berfokus pada tiga tokoh utama: Takaki Tono, Akari Shinohara, dan Kanae Sumida.
Hubungan Takaki dan Akari bermula dari persahabatan masa kecil yang sangat dekat di Tokyo. Keduanya menyimpan rasa satu sama lain, namun takdir memisahkan mereka saat orang tua Akari harus pindah ke Tochigi. Meskipun mereka mencoba bertahan melalui surat-menyurat dan hubungan jarak jauh (LDR), ruang dan waktu perlahan mulai mengikis kedekatan tersebut.
Di babak lain, muncul sosok Kanae Sumida, teman SMA Takaki di Kagoshima. Meski mencintai Takaki dengan tulus, Kanae harus menghadapi kenyataan pahit bahwa hati Takaki masih tertinggal di masa lalu bersama Akari. Sebuah potret tentang cinta bertepuk sebelah tangan yang digambarkan dengan sangat melankolis.
5 Pesan Moral Mendalam dari 5 Centimeters Per Second
Melalui film ini, Makoto Shinkai tidak hanya menyuguhkan gambar indah, tetapi juga refleksi hidup yang tajam. Berikut adalah 5 pesan moral yang bisa kita petik:
1. Jarak Bukan Sekadar Angka, Tapi Ujian Hati
Judul film ini merujuk pada kecepatan kelopak bunga sakura yang jatuh ke bumi. Shinkai ingin menggambarkan bahwa perubahan kecil yang terjadi secara perlahan—seperti jarak fisik yang menjauh—bisa menciptakan jurang yang sangat dalam jika tidak dirawat dengan usaha yang setara.
2. Terjebak di Masa Lalu Hanya Akan Menyakiti Diri Sendiri
Sosok Takaki adalah representasi orang yang gagal move on. Ia terus menanti sesuatu yang tidak pasti, hingga gagal melihat keindahan dan kesempatan yang ada di depannya. Film ini mengingatkan kita bahwa mengenang masa lalu itu boleh, namun hidup di dalamnya adalah sebuah kesalahan.
3. Realitas Cinta Tidak Selalu Seperti Negeri Dongeng
Berbeda dengan kebanyakan film romantis yang berakhir bahagia (happy ending), film ini menawarkan realitas pahit. Kadang, meski dua orang saling mencintai, keadaan dan pilihan hidup membuat mereka harus berjalan di jalur yang berbeda. Penerimaan atas nasib adalah kunci kedewasaan.
4. Keberanian untuk Mengungkapkan Perasaan
Kisah Kanae Sumida mengajarkan kita bahwa memendam perasaan seringkali berujung pada penyesalan yang sunyi. Meskipun pada akhirnya ia tidak bersama Takaki, kejujuran terhadap diri sendiri jauh lebih baik daripada selamanya bertanya-tanya tentang “bagaimana jika”.
5. Hidup Terus Berjalan (Keep Moving Forward)
Adegan ikonik di perlintasan kereta api pada akhir film memberikan pesan yang kuat: ada saatnya kita harus berhenti menoleh ke belakang. Kehidupan tidak akan berhenti menunggu kita; kita harus terus melangkah maju demi menemukan kebahagiaan baru.
5 Centimeters Per Second adalah sebuah puisi visual tentang kehilangan dan proses mengikhlaskan. Menontonnya kembali di bioskop pada Januari 2026 akan menjadi pengalaman nostalgia yang emosional, sekaligus persiapan mental sebelum melihat bagaimana versi live action menerjemahkan kepedihan indah ini ke dunia nyata pada Oktober mendatang.
Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan salah satu puncak estetika Makoto Shinkai ini di layar lebar terdekat di kota Anda. (*/tur)




