Penjor dalam Festival

Ya, masyarakat Hindu Bali memang menganggap penjor sebagai seni visual yang mengungkap peluhuran atas gunung. Sedangkan gunung adalah bangunan alam penunjuk tingkatan langit yang disebut meru. Sementara gunung dari segala gunung di Bali adalah Gunung Agung sehingga oleh masyarakat Bali dianggap sebagai mahameru.
Di mahameru inilah bersinggasana dewa-dewa, bahkan tempat Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) –yang mewakili Tri Tunggal (Brahmana, Wisnu, Syiwa) berada. Masyarakat Bali menganggap penjor yang tergubah monumental adalah bentuk peluhuran atas Gunung Agung.
Gunung Agung memang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Hindu Bali. Syahdan, gunung ini, menurut Babad Gunung Agung, pernah meletus pada tahun 89, 92, 148, dan 189. Babad Gumi mencatat meletus tahun 1553, 1615, 1616, 1665, 1683, 1664, 1710, dan 1711. Pada abad ke-19 meletus pada 1808, 1821, dan 1843. Terakhir, Gunung Agung meletus pada 17 Maret 1963. Konon, letusan ini adalah bentuk kemarahan gunung kepada masyarakat Bali sekuler (yang didukung Presiden Soekarno), yang mendadak menyatakan bahwa upacara Eka Dasa Rudra (upacara besar 100 tahun sekali) jatuh pada tahun 1963. Padahal, seharusnya tahun 1979.
Atas letusan dahsyat itu, masyarakat Bali memohon ampun kepada Gunung Agung lewat upacara peluhuran dengan memasang ribuan penjor. Presiden Soekarno bahkan juga berinstruksi: Dirikan penjor sebanyak-banyaknya. Gubah penjor seindah-indahnya!” (*)
*) AGUS DERMAWAN T., Penyusun buku Bali Bravo: Leksikon Pelukis Tradisional Bali 200 Tahun




