10 Perilaku Unik Orang yang Tumbuh dalam Kemiskinan Saat Dewasa: Lebih dari Sekadar Bertahan

KALTENG.CO-Masa kecil adalah fondasi utama dalam membentuk kepribadian dan pola pikir seseorang saat dewasa.
Bagi mereka yang tumbuh dalam kemiskinan, tantangan hidup yang dialami sejak dini sering kali membentuk perilaku yang unik, berbeda dengan mereka yang tumbuh dalam kondisi ekonomi yang lebih stabil.
Psikologi perkembangan dan sosial menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masa kecil memiliki dampak signifikan pada cara seseorang berpikir, berperilaku, serta menjalin hubungan dengan orang lain di masa dewasa.
Namun, penting untuk digarisbawahi, tidak semua perilaku ini bersifat negatif. Banyak di antaranya justru mencerminkan kekuatan, ketahanan, dan kemampuan adaptasi luar biasa yang mereka miliki.
Dilansir dari Geediting pada Sabtu (28/6/205), berikut adalah 10 perilaku unik yang biasanya ditunjukkan oleh orang yang tumbuh dalam kemiskinan saat mereka dewasa:
1. Sangat Menghargai Uang dan Sumber Daya
Orang yang tumbuh dalam kemiskinan cenderung memiliki pemahaman mendalam tentang nilai uang dan sumber daya. Mereka mungkin sangat hemat, tidak boros, dan selalu mencari cara untuk memaksimalkan setiap rupiah yang dimiliki. Pengalaman hidup serba terbatas mengajarkan mereka untuk menghargai setiap tetes air, setiap butir nasi, dan setiap kesempatan.
2. Memiliki Ketahanan (Resiliensi) yang Tinggi
Menghadapi kesulitan finansial sejak dini melatih mereka untuk menjadi individu yang sangat tangguh. Mereka terbiasa dengan ketidakpastian dan tekanan, sehingga memiliki kemampuan luar biasa untuk bangkit dari kegagalan dan terus berjuang meskipun dalam kondisi sulit. Resiliensi ini menjadi modal berharga dalam menghadapi tantangan hidup apapun di kemudian hari.
3. Lebih Pragmatis dan Berorientasi pada Solusi
Hidup dalam kemiskinan seringkali menuntut pemikiran cepat dan praktis. Mereka terbiasa fokus pada pemecahan masalah yang mendesak, tanpa terlalu banyak memikirkan teori atau idealisme. Cara berpikir ini membuat mereka menjadi pribadi yang sangat pragmatis, efisien, dan berorientasi pada tindakan nyata untuk mencapai tujuan.
4. Memiliki Kemampuan Adaptasi yang Luar Biasa
Lingkungan yang berubah-ubah dan sumber daya yang terbatas memaksa mereka untuk menjadi sangat adaptif. Mereka tidak terpaku pada satu cara saja untuk melakukan sesuatu, melainkan fleksibel dan kreatif dalam mencari alternatif ketika dihadapkan pada hambatan. Kemampuan ini membuat mereka mudah menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan kondisi.
5. Sangat Mandiri dan Percaya Diri
Terbiasa mengurus diri sendiri dan tidak bisa selalu bergantung pada bantuan orang lain, individu yang tumbuh dalam kemiskinan cenderung menjadi sangat mandiri. Mereka belajar untuk menyelesaikan masalah sendiri dan mengembangkan kepercayaan diri yang kuat pada kemampuan mereka untuk bertahan dan berhasil.
6. Menghargai Hubungan Sosial dan Solidaritas Komunitas
Dalam kondisi sulit, dukungan dari keluarga dan komunitas seringkali menjadi satu-satunya jaring pengaman. Oleh karena itu, mereka cenderung sangat menghargai hubungan sosial, gotong royong, dan solidaritas. Mereka memahami pentingnya saling membantu dan membangun ikatan yang kuat dengan orang-orang di sekitar mereka.
7. Cenderung Berhati-hati dalam Mengambil Risiko
Pengalaman kekurangan membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama yang berkaitan dengan finansial. Mereka mungkin tidak mudah tergoda oleh janji-janji manis atau investasi berisiko tinggi, melainkan lebih memilih jalur yang aman dan teruji untuk menjaga stabilitas yang telah dibangun.
8. Memiliki Motivasi Kuat untuk Perbaikan Diri dan Keluarga
Banyak dari mereka yang tumbuh dalam kemiskinan memiliki dorongan yang sangat besar untuk keluar dari lingkaran tersebut. Motivasi untuk memperbaiki taraf hidup diri sendiri dan terutama keluarga menjadi pendorong utama dalam pendidikan, karier, dan setiap aspek kehidupan mereka.
9. Bisa Menunjukkan Rasa Trauma atau Kecemasan Terkait Uang
Meskipun tangguh, pengalaman masa kecil yang sulit bisa meninggalkan jejak. Beberapa individu mungkin mengembangkan trauma atau kecemasan terkait uang, seperti ketakutan berlebihan akan kemiskinan di masa depan, bahkan ketika kondisi finansial mereka sudah membaik. Ini bisa memicu perilaku kompulsif dalam menabung atau bekerja.
10. Menghargai Pengalaman Lebih dari Harta Benda
Karena terbatasnya akses terhadap materi, mereka mungkin belajar untuk lebih menghargai pengalaman, pengetahuan, dan kualitas hubungan daripada sekadar harta benda. Kebahagiaan dan kepuasan hidup tidak selalu diukur dari apa yang dimiliki, melainkan dari momen-momen berharga dan pembelajaran yang didapat.
Memahami perilaku-perilaku ini membantu kita melihat bahwa latar belakang ekonomi membentuk karakter seseorang dengan cara yang kompleks dan seringkali positif. Ketahanan dan adaptasi yang mereka kembangkan adalah aset yang berharga dalam kehidupan. (*/tur)



