5 Ciri Khas Si Paling Telat yang Santai Bak di Pantai

KALTENG.CO-Dalam dinamika kelompok pertemanan atau lingkungan kerja, fenomena “paling telat” bukanlah hal yang asing. Selalu ada satu sosok yang seolah memiliki definisi waktu sendiri.
Entah itu janji kumpul penting, deadline proyek krusial, atau sekadar acara santai, mereka tetap hadir dengan “gaya” mereka sendiri: terlambat.
Yang lebih mencengangkan, keterlambatan ini seringkali dibarengi dengan sikap santai, bahkan tanpa merasa perlu meminta maaf. Seolah waktu memang diciptakan untuk menunggu kedatangan mereka.
Dilansir dari Geediting, mari kita telaah lima ciri khas unik dari individu-individu yang kerap terlambat namun tetap tenang seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan:
1. Optimisme Kronis Terhadap Waktu:
Salah satu ciri paling mencolok dari si tukang telat adalah keyakinan mereka yang luar biasa terhadap kemampuan mereka menyelesaikan segala sesuatu dalam waktu singkat. Mereka seringkali meremehkan durasi perjalanan, waktu persiapan, atau bahkan potensi kendala di jalan. Dalam benak mereka, “ah, 15 menit lagi juga sampai,” meskipun kenyataannya jarak dan kondisi lalu lintas berkata lain. Optimisme yang berlebihan ini membuat mereka seringkali menunda-nunda dan akhirnya terjebak dalam keterlambatan.
2. Multi-Tasking di Saat-Saat Terakhir:
Orang yang sering terlambat cenderung memiliki kebiasaan melakukan banyak hal sekaligus menjelang waktu keberangkatan. Mereka mungkin baru mulai bersiap-siap ketika seharusnya sudah berangkat, sambil tetap memeriksa email, membalas pesan, atau bahkan menyelesaikan pekerjaan kecil lainnya. Kemampuan multi-tasking ini alih-alih membantu, justru seringkali membuat fokus mereka terpecah dan akhirnya kehilangan jejak waktu.
3. Persepsi Waktu yang Fleksibel (Cenderung Melar):
Si tukang telat seolah memiliki jam internal yang berbeda dari orang lain. Mereka mempersepsikan waktu dengan lebih fleksibel, bahkan cenderung “melar”. Bagi mereka, keterlambatan 15-20 menit mungkin dianggap sebagai hal yang wajar atau bahkan “masih on time”. Perbedaan persepsi waktu ini seringkali menjadi sumber frustrasi bagi orang-orang yang menghargai ketepatan waktu.
4. Alibi Kreatif yang Siap Sedia:
Ketika akhirnya tiba dengan keterlambatan, para “artis telat” ini seringkali memiliki segudang alasan kreatif yang siap dilontarkan. Mulai dari ban bocor (padahal mobil baru dicuci), terjebak macet parah (padahal jalanan lengang), hingga alasan-alasan “tidak terduga” lainnya. Alibi ini, meskipun terkadang terdengar kurang meyakinkan, diucapkan dengan santai seolah menjadi pembenaran mutlak atas keterlambatan mereka.
5. Minimnya Rasa Bersalah atau Tanggung Jawab:
Inilah ciri yang paling membuat geleng-geleng kepala. Si tukang telat seringkali tidak menunjukkan rasa bersalah atau tanggung jawab atas keterlambatan mereka. Mereka mungkin tiba dengan senyuman lebar tanpa mengucapkan sepatah kata maaf pun. Sikap ini bisa jadi bukan karena kesengajaan, melainkan karena mereka memang tidak melihat keterlambatan sebagai sebuah masalah besar atau bentuk ketidakpedulian terhadap waktu orang lain.
Menyikapi Si Tukang Telat:
Menghadapi teman atau rekan kerja yang selalu terlambat memang membutuhkan kesabaran ekstra. Namun, penting untuk diingat bahwa kebiasaan ini mungkin bukan berasal dari niat buruk. Beberapa ahli psikologi berpendapat bahwa keterlambatan kronis bisa jadi berkaitan dengan faktor psikologis tertentu, seperti kesulitan mengatur waktu atau bahkan sebagai bentuk self-handicapping.
Meskipun demikian, bukan berarti kebiasaan ini harus terus ditoleransi. Komunikasi yang jujur dan terbuka mengenai dampak keterlambatan mereka terhadap orang lain mungkin bisa menjadi langkah awal. Menetapkan batasan waktu yang lebih awal dari waktu sebenarnya juga bisa menjadi strategi untuk “mengantisipasi” keterlambatan mereka.
Pada akhirnya, meskipun si paling telat memiliki ciri khasnya sendiri yang terkadang membuat frustrasi, memahami perspektif mereka dan mengkomunikasikannya dengan baik mungkin bisa menjadi jembatan untuk menciptakan hubungan yang lebih harmonis.
Namun, tetap penting untuk menegakkan budaya menghargai waktu dalam setiap interaksi. (*/tur)



