5 Kebiasaan Orang Tua Ini Bikin Anak Jauh Saat Dewasa, Hindari Sekarang Juga!

KALTENG.CO-Setiap orang tua tentu mendambakan hubungan yang kuat dan langgeng dengan anak-anak, apalagi saat mereka beranjak dewasa.
Kita ingin menjadi teman bicara, tempat berkeluh kesah, bahkan sandaran bagi mereka, meskipun anak-anak telah memiliki kehidupannya sendiri. Namun, tanpa disadari, ada beberapa pola perilaku orang tua di masa kini yang justru bisa menjadi penghalang terwujudnya kedekatan itu di kemudian hari.
Kebiasaan-kebiasaan ini, jika tidak diubah, berpotensi menciptakan jarak emosional yang sulit dijembatani saat anak sudah besar.
Melansir dari Geediting.com, Jumat (27/6/2025), berikut adalah perilaku yang sebaiknya dihindari demi hubungan erat dengan buah hati Anda di masa depan:
1. Terlalu Banyak Mengontrol dan Mendikte
Salah satu jebakan terbesar adalah kebiasaan terlalu banyak mengontrol setiap aspek kehidupan anak. Dari pilihan sekolah, teman, hobi, hingga keputusan-keputusan kecil sehari-hari. Orang tua mungkin merasa ini adalah bentuk perlindungan, tetapi bagi anak, ini bisa terasa seperti pembatasan kebebasan dan kurangnya kepercayaan.
Ketika anak merasa setiap langkahnya diatur, mereka cenderung tidak mengembangkan kemandirian dan kemampuan mengambil keputusan. Saat dewasa, mereka mungkin akan menjauhi Anda karena merasa tidak pernah diberi ruang untuk menjadi diri sendiri atau membuat pilihan. Biarkan anak membuat kesalahan kecil yang aman, karena dari situlah mereka belajar dan tumbuh.
2. Selalu Mengkritik, Jarang Mengapresiasi
Kritik memang penting untuk pertumbuhan, tetapi jika dominan dan tidak diimbangi dengan apresiasi, efeknya bisa merusak. Orang tua yang selalu mengkritik kekurangan atau kegagalan anak tanpa mengakui usaha atau keberhasilan mereka, akan membuat anak merasa tidak pernah cukup baik.
Anak yang terus-menerus dikritik mungkin tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri, takut mencoba hal baru, atau bahkan enggan berbagi cerita dengan Anda karena khawatir akan dihakimi. Pujian tulus dan pengakuan atas usaha, sekecil apapun, akan membangun harga diri anak dan memperkuat ikatan emosional.
3. Kurangnya Waktu Berkualitas Bersama
Di tengah kesibukan modern, waktu seringkali menjadi komoditas langka. Orang tua mungkin merasa sudah “ada” di rumah, tetapi kurangnya waktu berkualitas bersama anak adalah masalah serius. Waktu berkualitas berarti Anda hadir sepenuhnya, tanpa gangguan gawai atau pekerjaan, dan terlibat aktif dalam aktivitas bersama anak.
Jika anak terbiasa melihat orang tua sibuk dengan dunianya sendiri, mereka mungkin akan merasa kurang penting atau tidak diprioritaskan. Saat dewasa, mereka pun akan terbiasa menjaga jarak dan tidak menganggap Anda sebagai tempat pertama untuk berbagi suka maupun duka. Jadwalkan waktu khusus untuk bermain, berbicara, atau melakukan hobi bersama.
4. Tidak Mampu Mendengar dengan Empati
Mendengar berbeda dengan menyimak. Orang tua yang tidak mampu mendengar dengan empati seringkali memotong pembicaraan anak, langsung memberikan solusi tanpa memahami perasaan mereka, atau meremehkan masalah anak. Anak mungkin merasa ceritanya tidak penting atau perasaannya tidak divalidasi.
Ketika anak merasa tidak didengar atau dimengerti, mereka akan berhenti berbagi. Saat dewasa, mereka akan mencari telinga lain yang lebih mau mendengarkan tanpa prasangka. Latihlah diri untuk mendengarkan secara aktif, mengajukan pertanyaan yang menunjukkan ketertarikan, dan memvalidasi perasaan anak sebelum memberikan nasihat.
5. Mengabaikan Batasan dan Privasi Anak
Seiring bertambahnya usia, anak-anak membutuhkan ruang dan privasi. Orang tua yang mengabaikan batasan ini, misalnya dengan memeriksa ponsel anak tanpa izin, membaca diary, atau masuk kamar tanpa mengetuk, akan merusak kepercayaan. Anak akan merasa tidak dihormati dan privasinya dilanggar.
Pelanggaran privasi ini bisa membuat anak merasa diawasi dan tidak aman untuk menjadi diri sendiri. Saat dewasa, mereka mungkin akan membangun dinding pertahanan yang tebal dan sulit ditembus. Hormati privasi anak, ajari mereka tentang batasan yang sehat, dan bangun kepercayaan agar mereka mau berbagi secara sukarela.
Membangun hubungan yang langgeng membutuhkan usaha dan kesadaran diri. Dengan menghindari perilaku-perilaku di atas dan menggantinya dengan kebiasaan positif seperti memberikan dukungan, apresiasi, dan mendengarkan dengan hati, Anda akan meletakkan fondasi kuat untuk hubungan yang erat dan penuh kasih sayang dengan anak Anda hingga mereka dewasa.
Apakah ada kebiasaan lain yang menurut Anda bisa menghambat kedekatan orang tua dan anak? (*/tur)



