Angela Merkel Tak Mencalon, Pemilu Jerman Diprediksi Akan Sengit

Angela Merkel Tak Mencalon

KALTENG.CO – Kanselir Jerman Angela Merkel tidak ikut pemilu yang digelar Minggu (26/9/2021). Ketidak ikutannya ini merupakan pertamanya kalinya sejak Jerman Barat dan Timur bersatu pada 1990.

Itu juga kali pertama ia tidak menjadi kandidat kanselir sejak 2005. Karena itu, para pengamat menilai bahwa ini adalah pemilu tersengit. Partai mana pun berpeluang menang.

Tempat pemungutan suara dibuka pukul 08.00 waktu setempat dan tutup pukul 18.00. Ada lebih dari 60,4 juta warga Jerman di atas usia 18 tahun yang memiliki hak pilih. Hasil resmi pemilu biasanya baru keluar setelah beberapa pekan.

Penyelenggara pemilu menegaskan, saat ini pemberian suara secara tidak langsung (mail-in voting) meningkat tajam jika dibandingkan dengan pesta demokrasi sebelumnya. Jumlahnya sekitar 40 persen dari total pemilik hak suara.

Merkel yang kini berusia 67 tahun sudah berkuasa selama 16 tahun di Jerman. Pada Oktober 2018, kanselir perempuan pertama Jerman tersebut sudah menyatakan tidak mencalonkan diri lagi. Itu seiring dengan isu kesehatannya yang menurun. Merkel beberapa kali tertangkap kamera mengalami tremor pada tangannya.

Baca Juga:  Ahmad Doli : Alumni Kader Golkar Harus Tetap Bersatu Kembali Konsolidasi Kejayaan

Sistem Pemilu Yang Rumit Di Jerman Juga Menambah Sulitnya Prediksi

Politikus yang menjadi kanselir sejak 2005 itu sukses membawa Jerman menjadi salah satu negara dengan perekonomian terstabil. Partai Persatuan Demokrat Kristen Jerman (CDU) yang mengusung Merkel selalu menang di pemilu sebelumnya.

Namun, kali ini, situasi bisa berbalik. Sistem pemilu yang rumit di Jerman juga menambah sulitnya prediksi. Karena itu, pemilu kali ini adalah babak awal ketidakpastian di Jerman.

Baca Juga:  Dua Atlet Dayung Putri Mura Terima Bonus dari Ketua Dewan

’’Siapa sosok yang berkuasa adalah hal penting,’’ ujar Merkel dalam kampanye untuk mendukung partainya. Dia menegaskan, Jerman butuh stabilitas dan para pemuda membutuhkan masa depan.

Sosok Armin Laschet yang diusung CDU bisa memberikan dua hal penting itu. Penduduk harus memilih dua kali dalam pemilu parlemen. Pertama, memilih kandidat secara langsung. Mereka yang terpilih mendapat suara mayoritas di daerahnya.

Pemungutan suara kedua adalah memilih calon dari daftar yang diserahkan tiap partai. Biasanya, kandidat utama partai yang tidak terpilih pada voting pertama akan masuk daftar teratas di pemilihan kedua.