Benarkah Pelaku Penembakan Kantor MUI Penganut Aliran Sesat dalam Islam? Begini Cara Polisi Ungkap Motifnya

KALTENG.CO-Mustopa (60) dipastikan satu-satunya pelaku penembakan di MUI Jakarta. Dengan telah meninggalnya pelaku satu-satunya ini, aparat kepolisian tidak bisa mengetahui secara langsung dari pelakunya terkait motif penembakan.
Sekarang ini beredar berbagai motif spekulasi penembakan ini. Banyak yang mencoba mengaitkannya dengan aliran sesat dalam Islam. Benarkah demikian?
Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Hengki Haryadi mengatakan akan menggunakan melakukan otopsi psikologi dengan metode restrospektive terhadap jasad Mustopa, 60. Hal itu dilakukan untuk mengungkap motif di balik penembakan yang dilakukannya di Kantor MUI Pusat.
“Karena pelaku sudah meninggal dunia, yang kita lakukan adalah autopsi psikologi, metodenya restropektive, kita ke belakang (riwayat objek),” ujar Hengki kepada wartawan, Selasa (2/5/2023).
Dalam proses tersebut, ia mengatakan akan menggandeng Asosiasi Psikologi Forensik (APSIFOR) untuk melakukan profiling secara lengkap terhadap pelaku.
Selain itu juga pihaknya akan menggandeng ahli sosiologi agama untuk membuat kasus ini semakin terang benderang.
“Untuk mengetahui apakah ini merupakan aliran yang menyimpang/sesat kemudian apakah ini merupakan sekte dan lain sebagainya. Biar nanti ini yang menjawab sosiologi agama,” pungkas Hengki.
Sebelumnya, Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Hengki Haryadi menyebut bahwa motif sementara dari Mustopa, 60, melakukan penembakan di Kantor MUI Pusat adalah lantaran membutuhkan pengakuan atau legitimasi sebagai wakil nabi.
“Memang dari alat bukti yang ada tulisan-tulisan yang pertama motif sementara bahwa yang bersangkutan ini ingin mendapat pengakuan sebagai wakil nabi,” ujar Hengki kepada wartawan, Selasa (2/5/2023).
Penarikan kesimpulan motif penembakan sementara itu diambil, kata Hengki, berdasarkan adanya surat-surat yang ditinggalkan pelaku. Dalam surat tersebut, ia mengatakan bahwa pelaku mengutip salah satu hadis yang menyatakan bahwa di akhir zaman akan ada 73 golongan dalam Islam, dan hanya satu golongan yang diakui.
“Dan itu adalah saya sebagai wakil Tuhan,” kata Hengki menirukan isi surat tersebut. (*/tur)




