Bukan Sekadar Film Zombie, 28 Years Later: The Bone Temple Bongkar Sisi Gelap Manusia
KALTENG.CO-Franchise horor pasca-apokaliptik legendaris kembali menggebrak. Setelah penantian panjang, Juni 2025 lalu Sony Pictures merilis 28 Years Later karya Danny Boyle.
Meski memukau secara visual, film tersebut meninggalkan banyak lubang narasi (plot hole) yang membuat penonton bertanya-tanya.
Kini, semua jawaban tersebut terangkum dalam sekuel terbarunya, 28 Years Later: The Bone Temple. Disutradarai oleh Nia DaCosta, film berdurasi 109 menit ini bukan sekadar film zombie biasa; ini adalah studi karakter yang kelam tentang sisi gelap kemanusiaan.
Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Buaya
Film ini mengambil latar waktu tepat setelah akhir menggantung di film sebelumnya. Kita kembali mengikuti nasib Spike (Alfie Williams), bocah yang menjadi pusat cerita.
Saat terkepung oleh gerombolan mayat hidup, Spike diselamatkan oleh sekelompok pemuda misterius dengan pakaian warna-warni yang eksentrik.
Namun, rasa aman itu hanya sementara. Spike segera menyadari bahwa penyelamatnya adalah kelompok pemuja setan sadis yang dipimpin oleh pria eksentrik nan berbahaya, Sir Lord Jimmy Crystal (Jack O’Connell). Di bawah kendali Jimmy, mereka menyembah sosok iblis bernama “Nick Tua”.
Spike pun terjebak dalam dilema moral dan fisik:
- Dipaksa bertarung demi membuktikan kelayakan hidup.
- Mengalami perpeloncoan yang brutal dan traumatis.
- Menyaksikan kekejaman manusia yang jauh melampaui keganasan zombie.
Penemuan Besar Dr. Ian Kelson: Apakah Ada Harapan?
Di sisi lain, narasi bergeser pada sosok misterius yang sempat muncul di film ketiga, dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes). Ian hidup menyendiri di hutan dan melakukan eksperimen terhadap salah satu zombie alfa bernama Samson (Chi-Lewis Parry).
Secara mengejutkan, Ian menemukan sebuah “obat” unik. Dengan meracik bahan herbal yang dicampur morfin medis dan ditembakkan melalui sumpitan, ia berhasil menjinakkan Samson. Penemuan ini membuktikan bahwa zombie ternyata bisa disembuhkan dan diajak berinteraksi kembali.
Takdir kemudian mempertemukan Ian dengan Spike di markas Jimmy Crystal, memicu konflik berdarah yang tak terelakkan.
Mengapa “The Bone Temple” Berbeda dari Film Zombie Lainnya?
1. Minim Adegan Zombie, Maksimal di Teror Psikologis
Berbeda dengan tiga film pendahulunya yang penuh adegan kejar-kejaran intens, Nia DaCosta mengambil pendekatan yang lebih intim dan menyentuh. Adegan zombie di sini sangat minim. DaCosta seolah ingin menegaskan bahwa dalam dunia yang hancur, ancaman utama bagi manusia adalah sesama manusia itu sendiri.
2. Eksplorasi Sifat Asli Manusia
Tanpa gangguan konstan dari mayat hidup, film ini berhasil membedah karakter setiap individunya. Kita bisa melihat dengan jelas siapa yang pemberani, siapa yang egois, dan siapa yang rela berkorban. Perilaku psikopat Jimmy dan antek-anteknya menjadi bukti nyata bahwa manusia bisa lebih menakutkan daripada setan.
3. Akting Kelas Atas
Chemistry antara tiga aktor utamanya—Alfie Williams, Ralph Fiennes, dan Jack O’Connell—memberikan jiwa pada film ini. Penampilan mereka menjauhkan The Bone Temple dari kesan film zombie generik dan mengangkatnya menjadi drama thriller yang berbobot.
Penutup Luka bagi Penggemar Franchise
Secara keseluruhan, 28 Years Later: The Bone Temple adalah tontonan wajib untuk mengawali tahun 2026. Film ini berhasil menjawab rasa kecewa penonton yang sebelumnya merasa 28 Years Later dieksekusi dengan buru-buru.
Bagi Anda yang mencari film horor yang tidak hanya mengandalkan jump scare tapi juga memainkan emosi dan logika, film ini adalah jawabannya.
The Bone Temple membuktikan bahwa terkadang, obat dari sebuah kepunahan bukan hanya sains, tapi juga kemanusiaan yang tersisa. (*/tur)




