Bukan Siang Hari! Ini Jadwal Baru Makan Bergizi Gratis di Pondok Pesantren Selama Ramadhan

KALTENG.CO-Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan), Zulkifli Hasan (Zulhas), memastikan bahwa program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) akan tetap berjalan selama bulan suci Ramadhan 2026.
Meski demikian, terdapat beberapa penyesuaian teknis guna menghormati siswa yang menjalankan ibadah puasa serta menjaga efektivitas distribusi nutrisi.
Dalam acara PANFEST 2026 di Hutan Kota GBK, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2/2026), Zulhas menjelaskan bahwa skema pembagian makanan akan dibagi berdasarkan profil penerima manfaat.
Penyesuaian Program MBG Selama Ramadhan
Perubahan utama terletak pada waktu pemberian dan jenis makanan yang disajikan. Langkah ini diambil agar program tetap tepat sasaran tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah.
1. Menu Kering untuk Siswa Muslim
Bagi siswa beragama Islam yang bersekolah di sekolah umum, pemerintah akan menyediakan makanan kering. Tujuannya agar makanan tersebut tetap awet dan higienis saat dibawa pulang untuk disantap sebagai menu berbuka puasa di rumah.
2. Penyesuaian Waktu untuk Santri di Pesantren
Khusus untuk siswa yang menempuh pendidikan di pondok pesantren, jadwal distribusi yang biasanya dilakukan pada siang hari akan digeser ke waktu berbuka puasa. Hal ini memudahkan pengelola pesantren dalam manajemen logistik pangan selama bulan puasa.
3. Layanan Normal untuk Non-Muslim dan Kelompok Rentan
Zulhas menegaskan bahwa tidak ada perubahan jadwal bagi penerima manfaat lainnya.
Siswa Non-Muslim: Tetap menerima MBG pada siang hari.
Balita, Ibu Hamil, dan Ibu Menyusui: Tetap mendapatkan asupan nutrisi sesuai jadwal reguler karena tidak diwajibkan berpuasa.
Ketahanan Pangan Nasional: Klaim Surplus Beras
Selain membahas teknis program MBG, Menko Pangan juga membawa kabar baik mengenai kedaulatan pangan nasional. Zulhas mengklaim adanya lonjakan signifikan dalam produksi beras nasional sejak ia menjabat.
“Tahun 2024 kita impor beras 4 juta lebih. Tahun 2025, kita surplus 4,2 juta ton lebih. Jadi, tidak ada impor satu butir pun lagi,” tegas Zulhas.
Keberhasilan ini menjadi fondasi kuat bagi pemerintah untuk beralih fokus pada sektor lain, khususnya kesejahteraan nelayan dan pemerataan ekonomi desa.
Hilirisasi Perikanan dan Ekonomi Pancasila
Visi Menko Pangan ke depan tidak hanya berhenti pada swasembada beras. Terdapat tiga pilar utama yang akan digenjot melalui Gerakan Ekonomi Rakyat:
Zulhas menambahkan bahwa tiap desa diharapkan memiliki pusat pertumbuhan ekonomi melalui Koperasi Desa (Kopdes). “30 persen sektor pertanian, peternak, dan perikanan harus kita bikin sejahtera agar sesuai dengan cita-cita ekonomi Pancasila,” imbuhnya.
Penyesuaian program Makan Bergizi Gratis di bulan Ramadhan membuktikan fleksibilitas pemerintah dalam menjalankan kebijakan sosial.
Dengan stok pangan yang diklaim aman dan surplus, fokus pemerintah kini bergeser pada penguatan infrastruktur perikanan guna memastikan nelayan Indonesia tidak lagi terjebak dalam kemiskinan. (*/tur)



