Di Balik Film Minamata Johnny Depp: Fakta Mengejutkan Skandal Merkuri di Jepang yang Guncang Dunia

KALTENG.CO-Dunia industri modern memang membutuhkan bahan baku, mesin canggih, dan lahan yang luas demi memenuhi tuntutan pasar. Namun, di balik kemajuan ekonomi tersebut, tersimpan sisi gelap di mana kejujuran sering kali dikorbankan.
Demi takhta uang, banyak perusahaan mengabaikan hati nurani, bahkan tega menyuap otoritas demi menutupi kerusakan lingkungan yang mereka perbuat.
Salah satu potret paling kelam dalam sejarah polusi industri terjadi di sebuah kota pesisir Jepang bernama Minamata. Saking dahsyatnya dampak yang ditimbulkan, nama kota ini pun diabadikan sebagai nama penyakit saraf yang mengerikan.
Mengenal Penyakit Minamata dan Penyebabnya
Melansir laporan dari NIH (National Institutes of Health), penyakit Minamata adalah gangguan saraf yang terjadi akibat mengonsumsi ikan atau kerang yang terkontaminasi merkuri (raksa) dalam kadar sangat tinggi.
Sumber petaka ini berasal dari limbah pabrik milik Chisso Co., sebuah raksasa kimia yang membuang sisa produksinya langsung ke laut selama bertahun-tahun. Padahal, warga Minamata adalah masyarakat nelayan yang menggantungkan hidup dan asupan protein mereka sepenuhnya dari hasil laut tersebut.
Kisah W. Eugene Smith: Lensa yang Mengguncang Dunia
Meski penderitaan warga sudah berlangsung lama, isu ini baru mendapat perhatian internasional berkat dedikasi seorang fotografer legendaris asal Amerika Serikat, W. Eugene Smith.
Kisah perjuangannya ini pun diangkat ke layar lebar melalui film berjudul Minamata (2020), yang dibintangi oleh Johnny Depp. Berikut adalah poin-poin penting dalam perjalanan Eugene mengungkap kebenaran:
Masa Tua yang Kelam: Pada tahun 1971, Eugene digambarkan sebagai pria tua yang depresi dan dihantui trauma Perang Dunia II. Ia kehabisan uang dan ide, hingga seorang wanita bernama Aileen (Minami) datang mengetuk pintunya.
Panggilan Kemanusiaan: Aileen awalnya merekrut Eugene untuk proyek Fujifilm, namun ia kemudian menceritakan kondisi mengerikan warga di Kumamoto, Jepang, yang terpapar limbah kimia.
Melawan Arus: Meski pihak perusahaan mencoba menyuapnya untuk bungkam, Eugene tetap teguh. Ia berangkat ke Jepang, tinggal bersama keluarga setempat, dan mendokumentasikan penderitaan para korban.
Dukungan Majalah LIFE: Foto-foto hitam putih karya Eugene yang dimuat di majalah LIFE akhirnya membuka mata dunia mengenai kekejaman yang terjadi di pesisir Jepang tersebut.
Dampak yang Tak Pernah Benar-Benar Usai
Tragedi ini bukanlah sekadar catatan sejarah masa lalu. Dampaknya masih terasa hingga generasi saat ini:
Jumlah Korban Fantastis: Data dari Aileen Archive (hingga 2009) memperkirakan lebih dari 200.000 orang terpapar limbah merkuri tersebut.
Kompensasi yang Lambat: Hingga tahun 2024, tercatat baru sekitar 70.000 orang yang menerima kompensasi resmi.
Luka Permanen: Meskipun pemerintah setempat menyatakan perairan Minamata sudah bersih dari merkuri sejak awal Februari ini (menurut laporan The Asahi Shimbun), para penyintas masih harus berjuang melawan kerusakan saraf permanen seumur hidup mereka.
Menarik Pelajaran dari Film “Minamata”
Bagi Anda yang ingin memahami lebih dalam mengenai kasus polusi industri terburuk di Jepang ini, film Minamata sangat direkomendasikan.
Rating Film Minamata (2020):
IMDb: 7.2/10
Rotten Tomatoes: 78% Tomatometer
Film ini bukan sekadar hiburan, melainkan pengingat keras akan pentingnya menjaga kebersihan alam dan bahaya limbah kimia. Kita diperlihatkan bagaimana perlawanan warga sipil melawan korporasi yang dibekingi aparat keamanan, sebuah perjuangan demi martabat manusia di atas keuntungan semata. (*/tur)




