Drama di Laut Gaza: Israel Cegat 45 Kapal Bantuan, Nasib Greta Thunberg & Wanda Hamidah Terancam Deportasi

KALTENG.CO-Ketegangan di perairan Gaza kembali memuncak setelah militer Israel mencegat dan menahan puluhan aktivis internasional yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla.
Armada solidaritas yang membawa sekitar 45 kapal tersebut dicegat saat berlayar menuju Gaza untuk menyalurkan bantuan dan memecah blokade.
Di antara para aktivis yang ditahan, terdapat nama-nama besar yang langsung menarik perhatian dunia, seperti Greta Thunberg, aktivis iklim asal Swedia, dan Mandla Mandela, cucu dari tokoh anti-apartheid legendaris Nelson Mandela.
Pemerintah Israel telah menegaskan akan mendeportasi seluruh penumpang flotilla dan memindahkan mereka ke Eropa. Namun, hingga kini otoritas Israel belum menyebutkan negara tujuan pasti para aktivis tersebut.
Nasib Aktivis Indonesia: Keberadaan Wanda Hamidah di Flotilla
Sejumlah laporan internasional mengonfirmasi keterlibatan aktivis dari berbagai negara dalam Global Sumud Flotilla, termasuk dari Asia. Laporan terpisah menyebutkan bahwa di antara relawan yang berpartisipasi terdapat nama Wanda Hamidah, aktris dan aktivis asal Indonesia.
Meskipun informasi rinci mengenai nasib Wanda Hamidah masih simpang siur dan belum dikonfirmasi resmi oleh pihak Indonesia maupun Israel, dapat dipastikan bahwa jika ia berada di salah satu kapal yang dicegat, ia termasuk dalam kelompok yang akan dipindahkan ke Eropa melalui prosedur deportasi.
Situasi ini memicu kekhawatiran besar di tanah air mengingat seluruh penumpang menghadapi penahanan dan pemulangan paksa oleh otoritas Israel. Pemerintah Indonesia diharapkan segera bertindak untuk memastikan keselamatan dan memfasilitasi kepulangan warga negaranya.
Kecaman Internasional dan Propagandan Kontroversial Israel
Keputusan Israel untuk mencegat dan mendeportasi para aktivis Flotilla langsung menuai kecaman keras dari komunitas global:
- Amnesty International menyebut tindakan pencegatan dan pemulangan paksa ini sebagai bentuk intimidasi terhadap kebebasan berekspresi dan solidaritas kemanusiaan.
- Kelompok Palestina, Hamas, bahkan melabeli tindakan Israel sebagai ‘piracy’ (pembajakan) dan ‘terorisme maritim’.
- Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Israel mempublikasikan foto Greta Thunberg dan para aktivis di media sosial X. Langkah ini justru memicu kritik tajam, dinilai sebagai upaya propaganda untuk membenarkan tindakan blokade dan penahanan.
Meski demikian, Israel tetap bersikukuh dengan keputusannya. Sebagian besar kapal yang dihentikan kini berlabuh di Pelabuhan Ashdod. Menteri Luar Negeri Yunani George Gerapetritis memastikan tidak ada kekerasan saat pencegatan, namun 11 warga Yunani melakukan mogok makan sebagai protes atas yang mereka sebut sebagai ‘penahanan ilegal’.
Reaksi Keras Negara-negara Dunia
Insiden penahanan dan rencana deportasi ini memicu reaksi diplomatik yang beragam, dari kecaman keras hingga sikap yang terbelah:
- Kolombia mengumumkan langkah ekstrem dengan mengusir semua diplomat Israel sebagai bentuk protes atas penangkapan dan deportasi aktivis.
- Turki mengecam keras tindakan Israel sebagai ‘terorisme negara’ dan membuka penyelidikan setelah sejumlah warganya ditahan di laut.
- Spanyol memanggil duta besar Israel di Madrid dan meluncurkan investigasi atas dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
- Italia menunjukkan sikap berbeda. Meskipun warganya turut berada di kapal, Perdana Menteri Giorgia Meloni menilai aksi flotilla justru tidak membawa manfaat bagi rakyat Palestina.
Di tengah ketegangan diplomatik, gelombang solidaritas semakin membesar. Italia dilanda demonstrasi besar di Roma dan Napoli, termasuk aksi mogok kerja nasional. Flotilla ini, yang sejak awal dipersepsikan sebagai simbol perlawanan sipil terhadap blokade yang memicu krisis kelaparan di Gaza, kini justru memperkuat sorotan global.
Dengan nama-nama berpengaruh seperti Greta Thunberg dan cucu Nelson Mandela ikut ditahan, keputusan Israel untuk mendeportasi aktivis membuka pertanyaan besar: apakah ini sekadar strategi keamanan, atau justru cara efektif untuk membungkam kritik internasional atas kebijakan perang di Gaza? Insiden ini dipastikan akan memperkuat tekanan dunia terhadap Israel. (*/tur)



