BeritaNASIONAL

Fingerstyle Forest Plantation: Solusi Cerdas HTI di Pulau Kalimantan untuk Cegah Banjir dan Jaga Ekosistem

Urgensi Evaluasi Tata Ruang di Sumatera

Prof. Chay Asdak mengingatkan bahwa keberhasilan model fingerstyle di sektor HTI seharusnya memicu evaluasi pada sektor lain, terutama perkebunan sawit dan pertambangan. Data menunjukkan penyusutan hutan yang mengkhawatirkan di Sumatera antara tahun 1990 hingga 2024:

  • Aceh: Berkurang 379.309 hektar.
  • Sumatera Utara: Berkurang 500.404 hektar.
  • Sumatera Barat: Berkurang 354.651 hektar.

Ia menekankan bahwa kunci pencegahan bencana bukan hanya terletak pada “jenis pohon,” melainkan pada seberapa baik tutupan tanah dijaga. “Area TPL selamat karena tanahnya tertutup. Ini kontras dengan area sawit yang sering kali tanahnya terbuka gundul dan mengalami pemadatan di bagian bawah, yang mempercepat laju air,” tambah Chay.


Orkestrasi Hukum dan Ekologi: Tanggung Jawab Korporasi

Selain perspektif sains, aspek hukum juga memegang peranan vital. Prof. Lastuti Abubakar, Dosen Fakultas Hukum Unpad, menegaskan bahwa korporasi masa kini tidak bisa hanya mengejar profit semata.

“Korporasi harus menjalankan proses bisnis dengan mengedepankan etika, transparansi, dan keberlanjutan. Tanggung jawab sosial dan lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan dalam menjaga ketahanan bencana,” tegas Prof. Lastuti.

Konsep kolaborasi antara pemerintah, korporasi, dan masyarakat menjadi solusi akhir yang ditawarkan dalam seminar ini. Mengutip pemikir lingkungan Lester Brown, kapitalisme hanya akan bertahan jika ia berjalan beriringan dengan ekologi, bukan melawannya.

Mengapa Konsep Fingerstyle Relevan untuk HTI di Kalimantan?

Kalimantan memiliki karakteristik geografis yang unik dengan jaringan sungai yang sangat luas. Penerapan Fingerstyle Forest Plantation Management di bumi Borneo menawarkan beberapa keunggulan strategis:

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button