1. Perlindungan DAS dan Pencegahan Banjir Tahunan
Kalimantan sering kali dilanda banjir besar akibat luapan sungai Barito, Mahakam, dan Kapuas. Dengan pola fingerstyle, HTI di Kalimantan dapat menempatkan kawasan lindung sebagai buffer zone (area penyangga) di sepanjang anak sungai. Hal ini berfungsi menahan erosi dan memperlambat laju air menuju sungai utama, sehingga risiko banjir di pemukiman hilir dapat ditekan.
2. Konektivitas Habitat Satwa Endemik (Orangutan dan Bekantan)
Fragmentasi hutan adalah ancaman utama bagi satwa endemik Kalimantan. Dengan desain koridor hutan alam yang menyerupai jari, perusahaan HTI secara otomatis menyediakan “jembatan hijau” bagi satwa seperti Orangutan untuk berpindah antar kawasan lindung tanpa terisolasi di tengah area produksi.
3. Menjaga Kelembapan Lahan dan Mencegah Karhutla
Lahan di Kalimantan, terutama area gambut, sangat rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Konsep fingerstyle membantu menjaga kelembapan mikro di dalam area konsesi. Koridor hutan alam yang tersebar di antara blok produksi berfungsi sebagai sekat sela alami yang menjaga cadangan air tanah, sehingga lahan tidak mudah kering saat kemarau panjang.
4. Kontinuitas Tutupan Lahan (Zero Bare Land)
Salah satu poin penting yang ditekan Prof. Chay Asdak adalah menjaga tutupan tanah. Di Kalimantan, curah hujan yang tinggi dapat dengan cepat mencuci nutrisi tanah jika lahan dibiarkan gundul pasca-panen. Dengan pola panen bergiliran dalam desain fingerstyle, selalu ada tegakan pohon dewasa yang menutupi permukaan tanah, memastikan fungsi ekologis tetap berjalan tanpa interupsi.
Urgensi Transformasi Tata Kelola Korporasi
Penerapan inovasi ini menuntut tanggung jawab besar dari pemegang konsesi. Prof. Lastuti Abubakar dari Fakultas Hukum Unpad menekankan bahwa korporasi tidak boleh hanya mengejar profit.
“Korporasi harus menjalankan proses bisnis dengan mengedepankan transparansi dan keberlanjutan,” tegasnya. Di Kalimantan, hal ini berarti perusahaan HTI harus berani mengalokasikan persentase kawasan konservasi yang signifikan—mirip dengan TPL yang mendedikasikan 48.000 hektar dari total konsesinya untuk perlindungan lingkungan.
Praktik Fingerstyle Forest Plantation Management membuktikan bahwa industri perkayuan dan pelestarian lingkungan bisa berjalan berdampingan melalui pendekatan ilmiah yang tepat.
Inovasi ini diharapkan menjadi standar baru dalam pengelolaan hutan tanaman di Indonesia untuk meminimalisir risiko bencana di masa depan. (*/tur)




