Hati-Hati, Pujian yang Salah Bisa Jadi Racun bagi Tumbuh Kembang Anak!

KALTENG.CO-Seringkali kita menganggap pujian adalah kunci untuk membangkitkan semangat dan kepercayaan diri anak. Kita spontan mengucapkan “Good job!” atau “Hebat banget kamu!” saat melihat mereka berhasil melakukan sesuatu.
Namun, tahukah Anda bahwa pujian yang diberikan dengan cara yang keliru justru bisa menjadi bumerang, bahkan racun yang menghambat tumbuh kembang anak?
Dampak negatif dari pujian yang tidak tepat bisa sangat merugikan. Anak bisa tumbuh dengan rasa takut gagal yang berlebihan, menjadi enggan mencoba hal-hal baru, dan bahkan hanya melakukan sesuatu demi mendapatkan validasi dari orang lain, bukan karena motivasi internal.
Lalu, bagaimana pujian bisa berubah menjadi racun? Mari kita simak penjelasannya yang dirangkum dari kanal YouTube Hazie and Motherhood:
Ketika Pujian Bergeser Menjadi Ketergantungan
Pujian yang berlebihan atau salah sasaran bisa membuat anak terbiasa mencari pengakuan eksternal. Mereka akan menghubungkan nilai diri mereka dengan seberapa sering atau seberapa besar pujian yang mereka terima. Akibatnya, fokus mereka bergeser dari proses belajar dan eksplorasi menjadi sekadar “membuat senang” orang tua atau guru.
Bayangkan anak yang terus-menerus dipuji “pintar” setiap kali berhasil menjawab pertanyaan. Di kemudian hari, saat ia menghadapi soal yang sulit atau tidak tahu jawabannya, ia mungkin akan merasa cemas atau takut. Takut tidak lagi dianggap pintar, takut mengecewakan. Akhirnya, ia bisa saja menghindari tantangan agar tidak merusak citra “pintar” yang telah terbangun. Ini adalah bibit dari rasa takut gagal.
Bahaya Pujian Berbasis Hasil, Bukan Proses
Masalah utama seringkali terletak pada jenis pujian yang kita berikan. Kebanyakan dari kita cenderung memuji hasil akhir atau kemampuan bawaan anak. Contohnya:
- “Wah, gambarmu bagus sekali!” (pujian hasil)
- “Kamu memang pintar!” (pujian kemampuan)
Pujian semacam ini, meski terdengar positif, justru bisa mengirim pesan yang salah. Anak mungkin berpikir bahwa keberhasilan hanya datang dari bakat alami, bukan dari usaha. Ketika mereka menghadapi kesulitan, mereka bisa menyerah lebih mudah karena merasa tidak cukup “pintar” atau “berbakat” untuk mengatasi tantangan tersebut.
Sebaliknya, pujian yang berfokus pada proses, usaha, atau strategi yang digunakan anak akan jauh lebih bermanfaat. Ini membantu anak memahami bahwa kerja keras dan ketekunan adalah kunci keberhasilan, bukan hanya bakat.



