Berita

Jalur Sungai Sabangau Tersumbat, Nelayan Gotong Royong

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Jalur Sungai Sabangau tersumbat, nelayan gotong royong. Tertutupnya akses itu disebabkan oleh tanaman rasau atau pandan berduri yang larut dialiran sungai, Senin (3/7/2023).

Aksi gotong royong ini dilakukan sejumlah nelayan, warga, motoris, dan pemancing setempat. Secara bersama-sama, mereka membersihkan aliran Sungai Sabangau agar nantinya dapat dilewati secara leluasa.

Salah seorang warga setempat, Hidayat mengatakan, ia turut ambil andil gotong royong membersihkan jalur sungai tersebut. Dari hasil pemantauan, diketahui ada 11 titik akses yang tertutup tumbuhan itu.

https://kalteng.cohttps://kalteng.cohttps://kalteng.cohttps://kalteng.co

“Kami melakukan pembersihan aliran sungai ini seluruh lokasi di Sungai Sabangau, mulai dari Dermaga Kereng Bangkirai sampai  Pondok Nelayan Mangkok,” katanya ketika diwawancarai awak media, Selasa (4/7/2023).

Menurutnya, pembersihan dimulai pada 16 Juni 2023 lalu, yang mana sempat dibersihkan di empat sampai dengan lima titik. Pada kegiatan bersih-bersih ini, masyarakat juga dibantu pihak Taman Nasional Sabangau dan mitra kerja Borneo Nature Foundation (BNF) pada titik-titik terdekat hingga sekitar wilayah perupuk tunggal disekitar Sungai Bakung.

“Penyumbatan ini disebabkan kondisi air terus-menerus mengalami penurunan, sehingga sisi sungai yang biasanya dapat dilewati untuk menghindari tutupan tumbuhan, saat ini kering dan tidak dapat dilalui,” jelasnya.

Alhasil satu-satunya jalan adalah dengan membuka tumbuhan penutup ini dari sisi dalam, kemudian pada tengah sungai yang tebalnya bervariasi antara 20 meter hingga 60 meter.

“Pampanan atau tumbuhan yang menutupi jalur Sungai Sabangau ini memang ada sepanjang tahun, saat air tinggi bergerak alami dan tertahan disatu titik sehingga akumulasi tumpukan inilah yang membuat sulit dilewati,” paparnya.

Saat air tinggi, masyarakat nelayan pengguna sungai dapat dengan mudah melewati sisinya atau jalan pintas dengan perahu kecil namun saat surut alur sungailah yang menjadi satu-satunya akses.

Masyarakat telah melakukan kerja gotong royong membersihkan tumbuhan penutup sungai ini selama 4 hari. Pada pembersihan kedua ini telah dimulai pada Minggu (2/7/2023) dan sampai saat ini pun masih dilakukan.

“Titik-titik pembersihan pada lokasi atau titik yang akumulasi tumbuhan penutupnya tebal yakni di Sekitar Sungai Bakung, Sub Daerah Aliran Sungai Sabangau,” bebernya.

Akumulasi penutupan yang tebal dan berlapis, ditambah tumbuhan ini dapat bergerak oleh angin dan laju arus air sehingga sangat sulit untuk dibersihkan secara manual. Keluhan masyarakat yang kemaren sempat viral di sosial media (Sosmed) adalah bagian dari sulitnya mengatasi tumbuhan ini.

“Kita berharap pemangku kepentingan sebaiknya dapat duduk bersama guna memberikan dukungan dan bersama-sama mengatasi masalah akses klasik Sungai Sebangau,” tutupnya.

Untuk diketahui, pembersihan dilakukan masyarakat bersama kelompok getek atau perahu Wisata Maju Mandiri dan Kelompok Nelayan Tradisional, Jumat (16/6/2023) lalu.

 Kemudian pada Minggu (2/7/2023)  hingga sekarang, pembersihan dilakukan oleh Kelompok Masyarakat Pengguna Sungai dari Kereng Bangkirai, Kampung Nelayan Oles, Kampung Nelayan Rasau, Kampung Nelayan Bakung, dan Kampung Nelayan Mangkok. (oiq)

Related Articles

Back to top button