
PALANGKA RAYA-Usai meninjau progres pengembangan food estate di wilayah Dadahup, Kabupaten Kapuas, Rabu (16/12) Menteri Pertanian (Mentan) RI Syahrul Yasin Limpo melanjutkan peninjauan di Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau. Syahrul menyebut bahwa program food estate di Kalteng ini ditargetkan sebagai proyek percontohan nasional.
Hal itu sesuai dengan arahan Presiden RI Joko Widodo, bahwa Kalteng akan menjadi role model dalam rangka pengembangan ketahanan pangan di Indonesia. Tentu saja, dengan adanya sinergisme dan komitmen bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dapat dipastikan bahwa program ini dapat terlaksana dengan baik dan sukses.
“Ditambah adanya dukungan dari jajaran TNI, Polri, serta stakeholder lainnya, program food estate ini pasti akan berhasil,” katanya.
Pihaknya juga menekankan pentingnya off farm atau industri pengolahan di Kalteng agar dapat meningkatkan nilai tambah dan nilai ekonomis produk pertanian. Untuk tujuan itu perlu persiapan yang lebih baik lagi. Semisal, hasil gabah digiling menjadi beras, beras keluar harus dengan packaging, packagingnya harus dengan kualitas sangat tinggi.
“Sehingga untuk menembus pasar nasional maupun ekspor bisa bicarakan ke depan. Jadi, rice milling unit atau penggilingan perlu dibenahi sesuai petunjuk presiden,” tegasnya.
Pihaknya berharap agar tiap komponen komoditas pertanian dapat diolah sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi . Dengan demikian dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kalteng Sunarti mengatakan, Mentan memang menargetkan bahwa awal 2021 nanti sudah mulai tanam. Dan pihaknya meyakini bahwa target tersebut dapat tercapai pada waktunya.
“Yang ditargetkan pak menteri sudah bisa kita capai, saat kunjungan beliau dua hari lalu, olah lahan sudah mencapai 29.000 hektare lebih,” ujarnya.
Sisa lahan yang perlu dikerjakan hanya sekitar seribu hektare sesuai dengan target awal yakni berada di area 30 hektare lebih. Dengan menggunakan alat yang cukup maka pengolahan area itu akan secepatnya diselesaikan.
“Untuk pertanaman memang saat ini baru sekitar 16.000 ribu saja, tapi bukan karena alasan tidak mampu, melainkan karena ada beberapa area yang masih terendam, jadi belum bisa tanam. Sembari mempersiapkan untuk mencapai target, distribusi pupuk sudah bisa tersalur pada Desember ini,” pungkasnya. (abw/ce/ala)



