BeritaKALTENGNASIONALPalangka RayaUtama

Kesehatan Mental di Palangka Raya Darurat, Tiga Kasus Gantung Diri dalam Dua Pekan

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Rentetan kasus bunuh diri kembali mengguncang Kota Palangka Raya. Dalam kurun waktu dua pekan di awal tahun 2026, tercatat sedikitnya tiga peristiwa gantung diri yang terjadi di wilayah ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah.

Kejadian pertama terjadi di sebuah rumah yang terletak di Jalan Kalimantan, Gang Tri Tunggal, Kelurahan Pahandut, pada Kamis (1/1/2026) siang lalu.

Hanya berselang dua hari, peristiwa serupa kembali terjadi. Seorang pria berinisial RSP (29) ditemukan tewas dengan cara yang sama di sebuah barak yang berada di Jalan Anggrek, Gang Kenanga, Kelurahan Kereng Bengkirai, Kecamatan Sabangau, Sabtu (3/1/2026) pagi.

Baru-baru ini, pria berinisial AB turut ditemukan tewas dengan cara tidak wajar di sebuah kos di Jalan Patimura, Kelurahan Menteng, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Sabtu (10/1/2026) kemarin.

Widya Kumala selaku Pemerhati Kesehatan Mental sekaligus Anggota Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) Provinsi Kalimantan Tengah menaruh perhatian serius terkait dengan fenomena ini. Ia menilai rangkaian peristiwa tersebut menjadi alarm keras bagi semua pihak.

Menurutnya, tindakan bunuh diri bukanlah cerminan lemahnya karakter seseorang, melainkan akumulasi tekanan psikologis yang tidak tertangani dengan baik.

“Bunuh diri sering kali menjadi titik terendah dari rasa kesepian, putus asa, dan beban hidup yang terasa tidak memiliki jalan keluar. Banyak individu memilih memendam masalah karena merasa tidak memiliki ruang aman untuk bercerita,” ujar Widya saat diwawancarai, Minggu (11/1/2026).

Ia menambahkan, stigma terhadap persoalan kesehatan mental hingga kini masih menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk mencari bantuan, baik kepada keluarga, lingkungan sekitar, maupun tenaga profesional.

“Ketika seseorang merasa tidak dimengerti, mereka cenderung menarik diri dan menutup rapat masalahnya, hingga akhirnya mencapai batas kemampuan mentalnya,” jelas perempuan yang akrab Yaya itu.

Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat, mulai dari keluarga, lingkungan pendidikan, tempat kerja, hingga pemerintah, untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku orang-orang di sekitar. Menurutnya, kepedulian sederhana bisa menjadi faktor penentu antara hidup dan mati.

“Sering kali yang dibutuhkan hanyalah telinga yang mau mendengar, bukan penghakiman atau ceramah yang justru menambah tekanan,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun budaya saling menguatkan dan berani berbicara saat menghadapi masalah. Menganggap persoalan kesehatan mental sebagai hal tabu, menurutnya, hanya akan memperpanjang daftar korban.

Ia menegaskan, setiap nyawa memiliki nilai yang sangat berharga dan tidak ada masalah yang lebih besar dari kehidupan itu sendiri. Ia berharap pemerintah daerah dan tokoh masyarakat dapat memperkuat sistem dukungan kesehatan mental yang lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Ia juga mengimbau masyarakat yang mengalami tekanan mental berat atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri agar tidak ragu menghubungi layanan profesional atau fasilitas kesehatan terdekat.

“Jangan menormalisasi keputusasaan. Jika melihat tanda-tanda depresi pada teman atau keluarga, rangkul mereka dan dorong untuk mencari bantuan profesional. Kita harus bergerak bersama sebelum angka ini terus bertambah,” pungkasnya. (oiq)

Related Articles

Back to top button