
M. Hilmi Setiawan, Jakarta
Seperti umumnya PMI, Susi meninggalkan tanah air demi memperbaiki ekonomi keluarga. Apalagi, dia harus membiayai anak tunggalnya setelah bercerai dengan sang suami.Di Arab Saudi, Susi bekerja sebagai asisten atau pekerja rumah tangga di kawasan Al-Narjis. Susi cukup beruntung.
Karena berjualan di Arab Saudi, dia menggunakan harga riyal. Dia mencontohkan, satu set pakaian yang di Indonesia seharga Rp 300 ribu dia jual 200 riyal atau Rp 751 ribu. Kemudian, untuk kerudung yang di Indonesia dibanderol Rp 30 ribu, dia jual 40 riyal atau Rp 150 ribuan. Dia memasarkannya melalui aplikasi WhatsApp dan Facebook (FB).Sebagaimana kondisi di Indonesia, pada awal 2020, Arab Saudi juga dihebohkan dengan pandemi Covid-19.
Bahkan, Riyadh merupakan salah satu kota yang sempat di-lockdown.Di tengah pandemi itu, Susi tergerak membantu teman-temannya sesama PMI. ’’Banyak teman PMI yang kesusahan akibat lockdown pada awal-awal Covid-19 di Riyadh,’’ jelasnya. Dia tergerak untuk menyumbangkan barang dagangannya seperti pakaian dan kerudung secara cuma-cuma. Selain itu, melalui komunitas Viking KSA (Kingdom of Saudi Arabia), Susi menjadi inisiator penggalangan bantuan sembako. Paket sembako itu berisi telur, mi instan, minyak goreng, dan beras. Lebih dari 30 PMI di Riyadh mendapatkan bantuan sembako dari Susi.
Subhan mengenal Susi pada 2014. Ceritanya, saat itu Subhan memesan baju koko dari Susi. Dia tertarik karena baju koko yang dijual Susi berasal dari Indonesia. Hitung-hitung menjadi obat kangen tanah air.Selanjutnya, Subhan diajak Susi bekerja sama. Subhan bertugas mengantarkan baju-baju pesanan kepada sejumlah pelanggan Susi di Riyadh. Dari kerja sama itu, Subhan mendapatkan ongkos jasa kirim. ’’Hebatnya (Susi, Red), ada banyak orang yang menunggak pembayaran. Tetapi, Susi tetap semangat dan tidak marah kepada mereka,’’ tutur Subhan.
Lebih lanjut Susi menceritakan, setelah 11 tahun bekerja di Saudi, dia berhasil membangun rumah sendiri untuk keluarga dan orang tuanya di Sukabumi. Dia juga mampu membeli sejumlah bidang sawah. ’’Dan yang lebih penting, berhasil membiayai anak saya, Riski Setiawan, yang sekarang duduk di bangku SMK,’’ tuturnya.
Bagi Susi, pendidikan untuk anak semata wayangnya itu sangat penting. Selain itu, Susi baru saja melunasi biaya haji untuk orang tuanya. Rencananya, orang tua Susi berangkat haji pada 2032. Sebagai peraih penghargaan PMI Awards, Susi berhak mendapatkan uang tunai Rp 2 juta. Dia mengatakan, uang tersebut akan disumbangkan ke masjid, panti asuhan, atau orang-orang lain yang lebih layak dibantu. Dia mengaku sangat bersyukur dengan rezeki yang dia dapat selama ini.
PMI lainnya di Riyadh yang mendapatkan penghargaan adalah Kamaluddin. Pria asal Garut itu mulai bekerja di Saudi pada 1995. ’’Saat itu saya masih kelas 2 SMK,’’ terangnya.Pria yang akrab disapa Kamal itu bekerja sebagai sopir di kawasan Malaz, Riyadh. Dia bekerja kepada majikan yang merupakan mantan menteri di Kerajaan Saudi.
Menurut Kamal, majikannya sering tidak berada di rumahnya di Riyadh. Karena itu, Kamal punya banyak waktu luang. Nah, waktu luang tersebut dia manfaatkan untuk belajar bekam dari warga Indonesia yang juga tinggal di Riyadh. Ahli bekam guru Kamal itu dikenal dengan sebutan Master Arif.Di antara kawan-kawannya, Kamal dikenal sebagai sosok yang tidak pelit berbagi ilmu. Dia suka menggelar pelatihan bekam secara gratis kepada rekan-rekannya sesama PMI.
Pada 2018, Kamal mencoba peruntungan dengan berbisnis umrah. Dia membuka kantor cabang biro travel.Kiprah para peraih PMI Awards itu mendapat apresiasi dari Duta Besar RI di Riyadh Agus Maftuh Abegebriel. Agus menjelaskan, selain menggelar PMI Awards, pihaknya juga melaksanakan bakti sosial. ’’Dalam situasi sulit seperti saat ini, kita memerlukan kegiatan yang benar-benar memiliki nilai manfaat dan mencerminkan keberpihakan kepada para WNI/PMI yang rentan,’’ kata Agus. (*/c6/oni/jpg)




