Kisah Pilu Aurelie Moeremans dalam ‘Broken Strings’, Benarkah Roby Tremonti Pelakunya?
KALTENG.CO-Belakangan ini, jagat media sosial dihebohkan dengan peluncuran buku berjudul “Broken Strings” karya aktris berbakat Aurelie Moeremans.
Buku ini bukan sekadar karya literasi biasa, melainkan sebuah memoar emosional yang menceritakan pengalaman kelam Aurelie terkait kekerasan yang dialaminya saat masih remaja.
Kejujuran Aurelie dalam buku tersebut memicu simpati luas dari publik, terutama saat ia menyinggung isu sensitif mengenai child grooming. Meski Aurelie tidak secara eksplisit menyebutkan nama pelaku dalam narasinya, netizen dengan cepat mengaitkan cerita tersebut dengan sosok aktor Roby Tremonti.
Polemik Masa Lalu dan Dugaan Child Grooming
Nama Roby Tremonti mendadak menjadi sorotan tajam setelah kutipan-kutipan dari buku “Broken Strings” viral. Banyak pihak yang menduga bahwa dinamika hubungan masa lalu antara Aurelie dan Roby adalah inspirasi utama di balik kisah pilu tersebut.
Isu child grooming—sebuah praktik di mana orang dewasa membangun ikatan emosional dengan anak di bawah umur untuk tujuan eksploitasi—menjadi topik hangat yang menyertai pembahasan buku ini. Hal ini memicu gelombang kritik dari netizen terhadap Roby, mengingat perbedaan usia dan posisi mereka di masa lalu.
Tanggapan Roby Tremonti: Antara Pujian dan Keraguan
Setelah lama bungkam, Roby Tremonti akhirnya buka suara mengenai keterkaitan namanya dalam narasi buku tersebut. Secara mengejutkan, Roby memberikan apresiasi terhadap kualitas tulisan Aurelie, namun tetap memberikan catatan kritis.
“Bagus bukunya. Saya yang baca juga bisa panas, tapi kan buku itu hasil ilmiah ya, pemikiran ilmiah melalui proses editing, sah atau tidak itu keluar,” ujar Roby Tremonti.
Meski mengakui bahwa buku tersebut mampu menyentuh emosi pembaca, Roby mempertanyakan validitas atau kebenaran dari isi narasi yang disampaikan. Ia menekankan pentingnya bukti otentik di balik label “based on a true story”.
Poin-Poin Keberatan Roby Tremonti
Roby menyoroti beberapa hal mendasar terkait tanggung jawab moral dan hukum dari sebuah karya non-fiksi:
- Pertanggungjawaban Fakta: Roby mempertanyakan apakah narasi dalam buku tersebut didukung oleh bukti kejadian yang nyata atau sekadar bumbu cerita.
- Bukti Laporan Hukum: Ia menyinggung soal ada tidaknya bukti pelaporan di masa lalu yang mendukung klaim kekerasan tersebut.
- Edukasi vs Kontroversi: Meski setuju dengan pendapat Feni Rose bahwa buku ini bisa menjadi bahan edukasi, Roby mengingatkan publik untuk tidak menelan informasi secara mentah-mentah.
“Saya tanyakan ke publik, apakah kalian tidak mau mempertanyakan semua bukti-bukti dasar yang mendukung buku ini? Yang katanya adalah berdasarkan kisah nyata,” pungkasnya.
Pentingnya Kesadaran Terhadap Kekerasan pada Remaja
Terlepas dari perselisihan antara kedua belah pihak, buku “Broken Strings” telah berhasil membuka ruang diskusi penting di Indonesia mengenai:
- Kesehatan Mental: Bagaimana trauma masa kecil berdampak pada kehidupan dewasa.
- Edukasi Child Grooming: Mengajarkan masyarakat untuk mengenali pola-pola manipulasi terhadap anak di bawah umur.
- Keberanian Berbicara: Mendorong korban kekerasan untuk berani menyuarakan kebenaran versinya sebagai bentuk pemulihan (healing).
Buku ini kini menjadi salah satu referensi penting bagi mereka yang peduli pada isu-isu perlindungan perempuan dan anak, sekaligus menjadi pengingat bahwa masa lalu, sepahit apa pun, bisa diubah menjadi karya yang menginspirasi banyak orang. (*/tur)




