
Dia menyadari, kebanyakan pasien tidak ingin beralih ke CAPD karena mereka pikir ribet. Ke mana-mana harus bawa ini dan itu. Juga, harus di tempat yang steril. “Sebenarnya tidak harus seperti itu. Memang ketika bepergian jauh harus bawa perlengkapan CAPD, antisipasi takut waktu ganti cairan. Dan ruangannya intinya harus bersih dan tertutup serta tidak ada udara,” sambungnya.
Dia berharap, makin banyak orang yang mengerti. Selain itu, RSUD AM Parikesit bisa membuat layanan CAPD seperti di RSUD AWS. Apalagi prosedur yang dia lakukan juga ter-cover di BPJS Kesehatan.
Dokter Astried Indrasari menjelaskan, CAPD atau continuous ambulatory peritoneal dialysis merupakan modalitas dari terapi pengganti ginjal. Dua yang lainnya berupa transplantasi (cangkok) ginjal dan hemodialisis (HD). Proporsi terapi pengganti ginjal yang populer memang cuci darah. Dengan menggunakan mesin dan ginjal buatan atau yang disebut dialiser. Dilakukan di rumah sakit.
“Proporsi HD di Indonesia hampir 98 persen, sedangkan CAPD baru 2 persenan. Di Kalimantan Timur sendiri, ada sekitar 70 pasien gagal ginjal kronik yang menjalani CAPD,” terang Astried.
Dia melanjutkan, walau persentasenya masih sedikit, tapi perkembangan angkanya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menurut dia, CAPD bisa menjadi pilihan terapi pengganti ginjal (TPG).
Pada kondisi letak tempat tinggal pasien yang jauh dengan pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas hemodialisis. Atau tempat HD yang ada sudah penuh. Juga ditujukan pada pasien yang masih muda dan masih produktif. Seperti masih sekolah atau bekerja.



