BeritaNASIONAL

Luruskan Istilah El Nino Godzilla, BMKG: Musim Kemarau 2026 Tidak Se-ekstrem 1997

KALTENG.CO-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini terkait kondisi iklim di Indonesia pada tahun 2026.

Berdasarkan pemantauan data terbaru, musim kemarau tahun ini diprediksi akan memiliki intensitas yang lebih kering jika dibandingkan dengan nilai rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir.

Selain potensi curah hujan yang rendah, BMKG juga menyoroti bahwa musim kemarau 2026 kemungkinan besar akan datang lebih awal dan bertahan dengan durasi yang lebih lama.

Meluruskan Istilah “Kemarau Godzilla”

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab, dalam diskusi memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-76 di Jakarta, meluruskan berbagai spekulasi yang beredar di masyarakat. Belakangan ini, muncul istilah-istilah bombastis seperti “Kemarau Godzilla” atau “El Nino Godzilla” yang memicu kekhawatiran berlebih.

Fachri menegaskan bahwa BMKG tidak menggunakan istilah tersebut dan menilai penyebutan itu cenderung berlebihan.

“Maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun. Jika dibandingkan tahun per tahun, kemarau pada 1997 dan 2015 masih jauh lebih dahsyat,” ujar Fachri.

Perbandingan dengan Tahun-Tahun Sebelumnya

Meskipun tidak se-ekstrem tahun 1997 atau 2015, masyarakat tetap perlu waspada. Kondisi kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dibandingkan tahun 2023. Hal ini menjadi pengingat penting bagi sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air nasional.

Berikut adalah poin-poin utama perbedaan kondisi tahun ini:

  • Kategori: Lebih kering dari rata-rata 30 tahun terakhir.

  • Intensitas: Lebih kering jika dibandingkan dengan tahun 2023.

  • Penyebab: Dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Nino.

Memahami Hubungan El Nino dan Musim Kemarau

Sering terjadi salah kaprah bahwa El Nino adalah penyebab adanya musim kemarau. Fachri Rajab menjelaskan bahwa sebagai negara tropis, Indonesia akan selalu mengalami musim kemarau setiap tahunnya, terlepas dari ada atau tidaknya El Nino.

Apa yang sebenarnya terjadi di tahun 2026?

  1. Munculnya El Nino: Fenomena ini diprediksi mulai aktif pada akhir April hingga awal Mei 2026.

  2. Dampak: Kehadiran El Nino menyebabkan pengurangan intensitas curah hujan secara signifikan.

  3. Status Saat Ini: Intensitas El Nino terpantau masih dalam kategori lemah.

“El Nino mempengaruhi intensitas musim kemarau, tapi musim kemarau terjadi bukan semata-mata karena ada El Nino,” jelas Fachri.

Langkah Antisipasi bagi Masyarakat

Mengingat durasi kemarau yang diprediksi lebih panjang, beberapa langkah mitigasi yang bisa dilakukan antara lain:

  • Manajemen Air: Mulai menghemat penggunaan air bersih sejak dini.

  • Sektor Pertanian: Menyesuaikan pola tanam yang lebih tahan terhadap kondisi minim air.

  • Waspada Karhutla: Meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang memiliki titik panas (hotspot) tinggi.

Dengan informasi yang akurat dari BMKG, diharapkan masyarakat tidak terjebak dalam hoaks atau istilah yang menakutkan, melainkan lebih fokus pada langkah persiapan yang nyata untuk menghadapi musim kemarau 2026. (*/tur)

Related Articles

Back to top button