BeritaNASIONALUtama

Musim Tidak Lagi Pakem, Ini Dampak ‘Kemarau Basah’ dan Pentingnya Smart Farming Menurut Ahli BRIN

KALTENG.CO-Indonesia, negara yang dikenal dengan dua musimnya, kini menghadapi tantangan baru. Pola cuaca yang tidak menentu, seperti hujan lebat di tengah musim kemarau, semakin sering terjadi. Termasuk di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. Sejak pertengahan Agustus 2025 ini, intensitas hujan pada musim kemarau justru semakin meningkat.

Fenomena ini bukan sekadar anomali biasa, melainkan cerminan dari perubahan iklim yang lebih luas. Ahli klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, bahkan menyebut bahwa saat ini kita sudah tidak bisa lagi berpegang pada pakem musim yang ada.

Musim Kemarau yang Hilang

Menurut Erma Yulihastin, kriteria resmi untuk menyebut suatu periode sebagai musim kemarau adalah ketika curah hujan berada di bawah 50 mm per sepuluh hari (dasarian) selama tiga dasarian berturut-turut, atau setara dengan 30 hari. Berdasarkan pengamatan ini, Erma menegaskan bahwa Indonesia, terutama dalam setahun terakhir, tidak mengalami musim kemarau yang sesungguhnya.

“Kemarin pernah tidak hujan selama 10 hari, tetapi setelah itu hujan deras,” ungkap Erma. Kondisi ini membuat periode tanpa hujan tidak memenuhi kriteria minimum untuk dikategorikan sebagai musim kemarau.

Inkonsistensi Iklim: Kemarau Basah

Alih-alih menyebutnya musim kemarau, Erma Yulihastin lebih memilih istilah kemarau basah. Istilah ini menggambarkan kondisi di mana angin sudah menunjukkan pola angin musim kemarau, namun curah hujan masih tinggi. Ini adalah bukti nyata dari inkonsistensi iklim yang tengah terjadi.

Kondisi ini juga menimbulkan kebingungan. Musim hujan yang seharusnya baru datang di bulan September, kini sudah mulai terasa. Hal ini membuat istilah pancaroba pun terasa tidak relevan, karena periode transisi tersebut terjadi jauh sebelum waktu normalnya.

Dampak Langsung pada Sektor Pangan

Perubahan iklim yang tidak menentu ini memiliki dampak signifikan, terutama pada sektor pertanian dan ketahanan pangan. Ketika musim kemarau tidak ada, petani jagung tidak bisa menanam seperti biasanya karena tanaman ini membutuhkan periode kering. Hujan yang terus-menerus juga mempersulit jadwal pemupukan, yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman.

Kondisi ini menimbulkan tantangan besar bagi para petani, yang selama ini mengandalkan prediksi musim untuk menentukan jadwal tanam dan panen.

Solusi: Membawa Pertanian ke Era Modern

Menghadapi tantangan ini, Erma Yulihastin menekankan pentingnya adopsi smart farming. Ini bukan sekadar penggunaan sensor-sensor canggih, melainkan pendekatan yang lebih adaptif. Smart farming mengintegrasikan data prediksi iklim yang akurat untuk membantu petani membuat keputusan yang lebih cerdas.

Dengan smart farming, petani bisa menentukan:

  • Kapan waktu tanam yang optimal: Berdasarkan prediksi iklim, bukan hanya kalender musim.
  • Jadwal pemupukan yang efektif: Menyesuaikan dengan kondisi cuaca, terutama curah hujan.
  • Jenis tanaman yang paling sesuai: Apakah akan terus menanam padi sepanjang tahun atau menyelingi dengan palawija yang lebih cocok untuk kondisi iklim saat itu.

Pemerintah perlu menjadikan isu inkonsistensi iklim ini sebagai prioritas. Melalui kebijakan yang mendukung penerapan smart farming dan pemanfaatan data iklim yang akurat, kita dapat membantu petani beradaptasi dan menjaga ketahanan pangan nasional.

Ini adalah langkah krusial untuk memastikan masa depan pertanian Indonesia tetap stabil di tengah ketidakpastian iklim global. (*/tur)

Related Articles

Back to top button