Perjalanan Umrah Sudah Dibuka, Biaya Selama Pandemi Berkisar Rp28 hingga Rp38 Juta

Jemaah Cukup Karantina Sehari Saja
Sedangkan jemaah yang di vaksin AstraZeneca, Pfizer, Johnson & Johnson, dan Moderna tidak wajib karantina. Tetapi, kemudian muncul surat dari otoritas penerbangan sipil Saudi (GACA) yang isinya berbeda lagi.

Surat dari GACA itu mengharuskan semua jemaah, dengan vaksin apa pun, untuk menjalani karantina lima hari setiba di Saudi. Sekarang yang di pakai maskapai adalah aturan dari GACA tersebut.
Harapan lain nya adalah durasi karantina sepulang dari umrah bisa di kurangi. Apalagi, perjalanan umrah mereka hanya 12 hari. Tidak melampaui ketentuan 14 hari perjalanan luar negeri dari satgas Covid-19. Bahkan, jika di perlukan, jemaah cukup karantina sehari saja sambil menunggu hasil PCR. Setelah itu, di lanjutkan karantina mandiri di rumah masing-masing.
Jika aturan karantina di Saudi dan Indonesia bisa di perpendek, tentu itu berpengaruh pada biaya umrah. Biaya umrah bisa semakin murah. Sedangkan untuk jemaah, dia berharap lebih siap mental. Mereka menjalankan ibadah umrah di tengah protokol yang ketat.
Sebab, Indonesia maupun Saudi masih sama-sama dalam situasi pandemi Covid-19. Salah seorang jemaah umrah yang berangkat kemarin adalah Silvi. Perempuan 42 tahun asal Batam itu mengutarakan rasa syukur bisa berangkat umrah.
Dia mengaku mendaftar Maret 2021. Tetapi, saat itu pemberangkatan umrah masih di hentikan karena pandemi Covid-19. ’’Alhamdulillah, kami memang sudah di beri jadwal dari awal, tanggal sekian akan berangkat,’’ tuturnya.
‘Jaga Kepercayaan Pemerintah Indonesia’
Jemaah dari Batam mendapatkan jadwal keberangkatan pada 8 Januari ini. Dia mengatakan, calon jemaah menyambut haru dan sukacita atas keberangkatan tersebut. Bahkan, sejumlah jemaah sampai menangis karena merindukan untuk bisa beribadah di Masjidilharam dan Masjid Nabawi.
Pelepasan umrah perdana kemarin di pimpin langsung oleh Dir jen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Hilman Latief. Kepada para jemaah dan travel umrah, dia berharap mereka menaati peraturan protokol kesehatan. ’’Jaga kepercayaan pemerintah Indonesia dan Arab Saudi,’’ katanya.
Hilman berharap jemaah bisa menunjukkan disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan. Kedisiplinan itu penting karena pandemi Covid-19 di Indonesia maupun Saudi belum berakhir.
Dia menambahkan, sampai saat ini Kemenag masih menuntaskan regulasi penyelenggaraan umrah pada masa pandemi. Termasuk integrasi sistem milik pemerintah Indonesia dengan Kerajaan Saudi. Dengan integrasi itu, di harapkan proses verifikasi sertifikat vaksinasi, tes kesehatan, karantina, dan skrining kesehatan bisa berjalan lebih mudah, cepat, serta akurat.(tur)



