BeritaNASIONALOPINI

Perubahan Iklim Global dan Dampaknya Bagi Risiko Keamanan Kawasan ASEAN

ASEAN diberkahi dengan sumber daya alam yang melimpah, menopang sistem kehidupan bagi kawasan maupun dunia dengan menyediakan air, makanan, energi, bahkan rumah bagi ratusan juta jiwa.

Di sisi lain, kawasan ASEAN tengah dihadapkan pada tantangan dan tekanan dari perubahan iklim yang kian mengkhawatirkan.

Cuaca ekstrem yang lebih sering dan intens, kekeringan, dan kenaikan permukaan laut di antara dampak iklim lainnya, diperburuk oleh peningkatan populasi dan urbanisasi, serta aktivitas industri telah menciptakan bebagai ancaman terhadap kesejahteraan dan keamanan kawasan.

Shiloh Fetzek dan Dennis McGinn berpendapat perubahan iklim berdampak besar terhadap aspek sosial-ekonomi, politik, dan risiko kemanan yang lebih luas. Termasuk gangguan rantai pasokan, bencana alam yang berjenjang.

Bahkan, dapat mendorong persaingan antarnegara untuk memperoleh sumber daya langka dan memicu migrasi besar-besaran, memperburuk ketegangan politik lama, menimbulkan ketegangan baru, dan menyebabkan kesulitan untuk integrasi dan inisiatif multilateral di ASEAN.

The Global Climate Risk Index 2020 by Germanwatch, mencatat negara-negara seperti Filipina, Myanmar, Thailand dan Vietnam telah menanggung biaya kerugian terbesar untuk bencana iklim dan peristiwa cuaca selama 20 tahun terakhir.

Menurut studi tahun 2017 oleh Asian Development Bank and the Potsdam Institute for Climate Impact Research, sektor pertanian akan mengalami penurunan sebesar 50 persen, lebih rendah pada tahun 2100 dibanding 1990 di Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Selain itu, kenaikan permukaan laut tengah mengancam Indonesia, Myanmar, Filipina, Vietnam, dan Thailand untuk kehilangan sebagian besar wilayah substansialnya pada tahun 2050.

Dampak perubahan iklim secara lebih lanjut berpengaruh terhadap hilangnya mata pencaharian yang mendorong migrasi dan pemindahan paksa. The Internal Displacement Monitoring Centre memperkirakan sebesar 65,9 juta jiwa akan menjadi pengungsi iklim akibat bencana alam di Asia Tenggara pada tahun 2020, dengan 89 juta pengungsi pada 2050.

Pada spektrum yang lebih luas, hal ini akan meningkatkan risiko dan tantangan keamanan antarnegara-negara anggota, persaingan geostrategi, sengketa teritorial, perluasan kemampuan militer, bahkan konflik berkelanjutan terkait gerakan separatis, serta pembajakan dan kejahatan terorganisir serius lainnya.

Saat ini, Indonesia, Myanmar, dan Filipina tengah dihadapkan oleh upaya rekrutmen sipil oleh kelompok separatis di bawah kerentanan ekonomi akibat dampak perubahan iklim.

Menanggapi besar dampak perubahan iklim terhadap keamanan dan stabilitas kawasan, komunitas ASEAN secara bersama harus menyadari bahwa mitigasi terhadap dampak perubahan iklim membutuhkan pendekatan multilateral, berlawanan dengan prinsip non-intervensi yang dijalankan.

Peran serta seluruh pihak dibutuhkan, kerja sama dan komitmen erat antarnegara-negara ASEAN diperlukan untuk mencegah potensi konflik dan menjaga keamanan kawasan.

Sesuai dengan visi ASEAN 2025 yang bertujuan untuk membentuk lingkungan yang aman dan nyaman bagi komunitas, penanganan dampak iklim dengan aktivitas ekonomi berbasis lingkungan, penggunaan energi baru terbarukan, hingga pengembangan insentif keuangan baru dan mekanisme pasar untuk memfasilitasi investasi dalam program pembanguan berkelanjutan amat diperlukan. (*)

Penulis:
Juwita Maya Aldhea

Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang. (Dikutip dari JawaPos.com/tur)

Related Articles

Back to top button