BeritaEkonomi BisnisKAWAT DUNIA

Pekan Krusial Kripto: Dua Badai Makro Siap Dorong Bitcoin ke Level Baru

KALTENG.CO-Pasar kripto sedang menahan napas. Dua peristiwa makro global—berakhirnya government shutdown dan kesepakatan dagang AS–India—diprediksi menjadi katalis ganda yang akan menyuntikkan likuiditas masif dan memicu reli baru pada aset berisiko seperti Bitcoin.

Detik-Detik Pemulihan Likuiditas Global

Pasar kripto tengah bersiap menghadapi pekan penting yang bisa mengubah arah sentimen global. Dua peristiwa makro besar, potensi kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan India serta berakhirnya government shutdown, diyakini akan mengembalikan likuiditas dan memicu reli baru di aset berisiko seperti Bitcoin.

Dikutip dari Beincrypto, Senin (11/11), Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat “sangat dekat” mencapai kesepakatan dagang dengan India. Kesepakatan ini, jika disahkan secara resmi, dapat menenangkan ketegangan dagang global dan memperkuat mata uang negara berkembang. “Ini bisa menjadi katalis besar bagi aset berisiko seperti Bitcoin,” tulis Beincrypto.

🤝 Katalis #1: Kesepakatan Dagang AS–India Meredakan Ketegangan Global

Dalam laporan Reuters dan NDTV, kesepakatan tersebut mencakup penurunan tarif ekspor India dari sekitar 50% menjadi hanya 15–16%, serta komitmen India untuk mengurangi impor minyak dari Rusia.

Dampak Positif pada Sentimen Pasar

Bagi Washington, kesepakatan tersebut memperkuat stabilitas perdagangan di Asia, sementara bagi India, langkah itu berpotensi meningkatkan ekspor menjelang pemilu 2026. Investor global kini menunggu pengumuman formal.

  • Peningkatan Optimisme: Stabilitas perdagangan di dua ekonomi besar ini mengurangi risiko geopolitik.
  • Arus Modal ke Emerging Market: Pengumuman formal diperkirakan menjadi pemicu arus modal baru ke pasar emerging market, termasuk pasar kripto yang sering dianggap sebagai aset spekulatif berisiko tinggi (high-beta asset).

Pergeseran optimisme perdagangan ini dapat menekan nilai Dolar AS (DXY), yang secara historis sering berkorelasi negatif dengan aset alternatif seperti Bitcoin dan Emas. Pelemahan Dolar biasanya memicu selera risiko investor untuk beralih ke aset yang lebih volatil.

💰 Katalis #2: Pencairan Dana TGA Setelah Government Shutdown Berakhir

Di sisi lain, kabar positif juga datang dari Washington. Senat Amerika Serikat telah meloloskan rancangan undang-undang bipartisan untuk membuka kembali pemerintahan yang sudah ditutup selama enam minggu. Rencana pendanaan ini akan memperpanjang operasi pemerintah hingga Januari 2026 dan mencakup pembayaran kembali bagi pegawai federal yang sempat dirumahkan.

Efek Kontraksi Likuiditas Global Teratasi

Shutdown tersebut diketahui telah “membekukan” sekitar USD 850 miliar (setara Rp 14.195 triliun) dana di rekening Treasury General Account (TGA), atau sekitar 8% dari total likuiditas Dolar global. Akibatnya, pasar saham dan kripto sama-sama mengalami pengetatan likuiditas dalam sebulan terakhir.

Jika pemerintah kembali beroperasi, Kementerian Keuangan AS diperkirakan akan menggelontorkan kembali antara USD 250–350 miliar (setara Rp 4.175–Rp 5.845 triliun) dalam beberapa pekan. Dana segar ini akan kembali beredar ke pasar dan dapat mendorong harga aset berisiko naik, termasuk Bitcoin dan Ethereum.

Mantan CEO BitMEX, Arthur Hayes, menyebut fenomena ini sebagai “stealth QE”—ekspansi likuiditas terselubung yang bukan berasal dari kebijakan bank sentral, melainkan dari belanja pemerintah dan stabilitas global.

📊 Bitcoin Sebagai Barometer Likuiditas Global

Bitcoin sepanjang tahun ini bergerak seperti barometer likuiditas global. Penurunan sekitar 5% sejak Juli mencerminkan efek kontraksi akibat penahanan kas oleh pemerintah AS di TGA.

Namun, data on-chain menunjukkan adanya pergerakan strategis oleh para whale (pemilik 1.000–10.000 BTC). Kelompok ini justru memanfaatkan penurunan ini untuk menambah posisi. Tercatat sekitar 29.600 BTC atau senilai USD 3 miliar (setara Rp 50,1 triliun) dikumpulkan selama fase koreksi.

“Jika kedua katalis ini terwujud, Bitcoin bisa kembali bertahan di atas USD 110.000 (setara Rp 1,84 miliar),” tulis Beincrypto, menggarisbawahi potensi rebound signifikan.

Sinyal Teknis dan Makro yang Mendukung:

  1. Imbal Hasil Riil Menurun: Jika Dolar melemah akibat meningkatnya keyakinan terhadap perdagangan global, imbal hasil riil (real yields) berpotensi menurun. Kondisi ini secara tradisional mendukung reli pada aset alternatif.
  2. Aktivitas Long-Term Holders: Data on-chain menunjukkan pemegang jangka panjang (long-term holders) justru meningkatkan eksposur, sinyal klasik bahwa pasar sedang membentuk fase dasar baru.

🔑 Efek Ganda yang Ditunggu Investor

Jika dua katalis besar tadi, yakni berakhirnya shutdown dan penandatanganan kesepakatan dagang AS–India, benar-benar terjadi pekan ini, analis memperkirakan efek ganda akan terjadi di pasar:

  • Pemulihan Fiskal: Mengisi kembali likuiditas pasar dengan dana dari TGA.
  • Optimisme Global: Menekan Dolar dan mendorong selera risiko investor terhadap aset yang lebih spekulatif.

Dengan kombinasi antara pelonggaran likuiditas dan pergeseran sentimen global, pekan ini bisa menjadi titik balik penting bagi arah pasar kripto menjelang akhir tahun.

Meski volatilitas jangka pendek mungkin masih muncul, struktur makro saat ini dinilai mulai beralih ke arah yang lebih konstruktif. (*/tur)


Related Articles

Back to top button