AKHIR PEKANBeritaLife StyleMETROPOLIS

Tetap Hemat Meski Sudah Kaya? Ini Alasan Psikologis di Balik Mentalitas Pejuang Finansial

KALTENG.CO-Uang memang memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah gaya hidup, strata sosial, hingga penampilan seseorang. Namun, ada satu hal yang sulit diubah sepenuhnya oleh saldo rekening: psikologi masa kecil.

Kebiasaan yang terbentuk saat kita masih kecil sering kali berakar sangat kuat. Menariknya, bagi mereka yang kini telah sukses atau bergelimang harta, ada beberapa “tanda kecil” yang secara tidak langsung mengungkap bahwa mereka sebenarnya tidak tumbuh dalam keluarga berada.

Dilansir dari laman Global English Editing, berikut adalah 7 perilaku halus yang menjadi bukti bahwa seseorang pernah berjuang secara finansial di masa lalunya.

1. Rasa Bersalah Saat Membeli Barang Mewah

Bagi orang yang lahir di keluarga kaya, membeli barang mahal adalah hal biasa. Namun, bagi mereka yang “baru kaya,” sering kali muncul perasaan tidak nyaman atau rasa bersalah setelah melakukan transaksi besar. Ada suara kecil di kepala yang bertanya, “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?” atau “Berapa banyak makanan yang bisa dibeli dengan uang sebanyak ini?”

2. Sangat Menghargai Makanan (Anti-Mubazir)

Pernahkah Anda melihat orang sukses yang tetap menghabiskan setiap butir nasi di piringnya atau bersikeras membungkus sisa makanan di restoran? Ini adalah insting bertahan hidup. Bagi mereka yang pernah merasakan sulitnya mencari makan, membuang-buang makanan terasa seperti dosa besar, terlepas dari seberapa kaya mereka sekarang.

3. Ketelitian Ekstrem Terhadap Harga dan Diskon

Meskipun mampu membeli barang tanpa melihat label harga, seseorang yang tumbuh sederhana biasanya tetap memiliki insting “pemburu diskon.” Mereka cenderung membandingkan harga di dua toko berbeda atau merasa puas saat mendapatkan penawaran terbaik. Kebiasaan mengecek struk belanjaan bukan karena pelit, melainkan bentuk kewaspadaan finansial yang sudah mendarah daging.

4. Kesulitan Meminta Bantuan

Tumbuh dalam kondisi ekonomi yang terbatas sering kali memaksa seseorang untuk menjadi mandiri sejak dini. Akibatnya, mereka terbiasa melakukan segala hal sendiri (DIY mentality). Bahkan setelah mampu membayar orang profesional untuk membantu, mereka sering kali merasa sungkan atau merasa lebih baik jika mengerjakannya sendiri.

5. Memperbaiki Daripada Mengganti

Ketika ada barang yang rusak, refleks pertama mereka adalah memperbaikinya, bukan langsung membuang dan membeli yang baru. Perilaku ini muncul dari masa lalu di mana mengganti barang bukanlah sebuah pilihan. Sepatu yang solnya lepas akan dibawa ke tukang sol, bukannya langsung masuk tempat sampah.

6. Kekhawatiran Tersembunyi tentang Masa Depan

Bagi mereka yang tumbuh tanpa jaring pengaman finansial, ada ketakutan bawah sadar bahwa kekayaan saat ini bisa hilang kapan saja. Hal ini sering membuat mereka menjadi sosok yang sangat hemat atau justru sangat gila kerja (workaholic). Mereka selalu merasa perlu memiliki “dana darurat” yang sangat besar agar tidak pernah kembali ke masa sulit.

7. Ketidaknyamanan dalam Pembicaraan Tentang Uang

Orang yang tumbuh kaya cenderung melihat uang sebagai alat atau topik diskusi yang netral. Sebaliknya, mereka yang tumbuh sederhana sering kali merasa kikuk atau sangat tertutup saat membahas nominal gaji atau kekayaan. Ada rasa segan atau trauma masa lalu yang membuat topik uang terasa sangat personal dan sensitif.

Perilaku-perilaku di atas bukanlah kekurangan, melainkan simbol ketangguhan. Meskipun kini hidup dalam kemewahan, jejak masa lalu memberikan mereka perspektif yang lebih dalam tentang nilai kerja keras dan rasa syukur.

Pada akhirnya, bukan seberapa banyak uang yang kita miliki sekarang yang menentukan siapa kita, melainkan bagaimana perjalanan hidup membentuk karakter kita. (*/tur)

Related Articles

Back to top button