
KALTENG.CO-Proses seleksi dan pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tahun ini menjadi sorotan publik.
Bukan hanya soal beratnya pelatihan ala militer yang dijalani, tetapi juga ketegasan otoritas dalam menyaring siapa yang layak berangkat.
Kasus terbaru yang menimpa artis Chiki Fawzi menjadi cermin betapa ketatnya aturan yang diberlakukan bagi calon pelayan tamu Allah.
Transparansi Kemenhaj: 13 Petugas Dicopot Karena Indisipliner
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkapkan bahwa sebanyak 13 calon petugas haji terpaksa dipulangkan saat proses Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) di Asrama Haji Pondok Gede. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen dalam menjaga kualitas pelayanan di Tanah Suci.
Beberapa alasan utama pencopotan tersebut meliputi:
Tindakan Indisipliner: Ketidakpatuhan terhadap jadwal dan aturan barak.
Pemalsuan Dokumen: Ditemukan adanya peserta yang memalsukan absensi hingga hasil Medical Check Up (MCU).
Kondisi Kesehatan: Peserta yang mengidap penyakit kronis seperti TBC namun tidak jujur saat pendaftaran.
“Keputusan diambil oleh tim pelatih dari TNI dan Polri. Kami ingin orang yang benar-benar siap fokus mengikuti aturan selama pelatihan,” tegas Dahnil.
Kasus Chiki Fawzi: Patuh Namun Harus Ikhlas
Di tengah ketatnya seleksi ini, nama Chiki Fawzi sempat mencuri perhatian. Chiki yang sebelumnya sudah mengikuti pelatihan intensif dikabarkan sempat diminta kembali, namun akhirnya statusnya sebagai petugas resmi dibatalkan.
Meski muncul berbagai spekulasi di media sosial, Chiki menegaskan bahwa dirinya tidak melakukan pelanggaran apa pun. Ia menyatakan kepulangannya adalah perintah dari atasan yang ia terima dengan lapang dada.
“Saya patuh dan tidak melanggar apa pun. Dari pas malam-malam diminta pulang dengan alasan yang tidak ada hubungannya dengan kriteria pelanggaran, saya sudah ikhlas,” ungkap Chiki Fawzi melalui akun media sosialnya.
Petugas Haji Bukan “Nebeng” Ibadah
Dahnil Anzar Simanjuntak kembali mengingatkan bahwa menjadi petugas haji adalah sebuah profesi yang digaji, bukan fasilitas untuk ikut berhaji secara gratis atau “nebeng”. Beban kerja petugas sangat berat, bahkan diibaratkan harus siap bekerja “25 jam” dalam sehari.
“Niat utamanya adalah melayani jamaah. Mereka adalah garda terdepan. Jika abai terhadap pekerjaan saat di Tanah Suci, sanksi tegas berupa evaluasi dan pengeluaran langsung akan dilakukan,” tambah Dahnil.
Ragam Latar Belakang Petugas Haji Tahun Ini
Meskipun seleksinya sangat ketat, profil petugas haji tahun ini sangat beragam, mencakup:
Tenaga Medis (Dokter dan Perawat)
Aparat Keamanan (TNI/Polri)
Jurnalis dan Akademisi (Profesor)
Aktivis dan Tokoh Masyarakat
Ketegasan pemerintah dalam menyeleksi petugas haji menunjukkan bahwa pelayanan kepada jamaah adalah prioritas utama.
Drama yang dialami Chiki Fawzi maupun pencopotan belasan petugas lainnya menjadi pengingat bahwa dedikasi dan kejujuran adalah syarat mutlak bagi siapa pun yang ingin menjadi pelayan tamu Allah. (*/tur)



